Tampilkan postingan dengan label Childbirth Support & Healing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Childbirth Support & Healing. Tampilkan semua postingan

Cara Menjadi Pendamping Persalinan yang Sempurna

Persalinan dapat menjadi pengalaman yang intens dan luar bisa. Namun, bisa dibilang juga membosankan. Kita benar-benar harus bersabar menunggu kedatangan si kecil, dan di waktu waktu inilah para ayah mendapat kesempatan untuk benar-benar bersinar.


Proses persalinan secara fisik memang sebagian besar melibatkan ibu dan anak. Ya, merekalah bintangnya, tetapi Anda mempunyai peran yang tidak kalah penting sebagai pendamping persalinan, dan ada banyak hal yang dapat Anda lakukan untuk membantu pasangan Anda dalam proses persalinan selain mengambil beberapa foto dan menghubungi keluarga atau teman-teman terdekat.


Persalinan dapat menjadi pengalaman yang intens dan luar bisa Cara Menjadi Pendamping Persalinan yang Sempurna



  1. Mengetahui apa yang diinginkan pasangan Anda


Bicarakan dengan pasangan Anda jauh jauh hari sebelumnya mengenai apa yang dia ingin dan tidak dia inginkan selama proses persalinan. Akan jauh lebih baik jika Anda dapat menemani pasangan Anda untuk membuat birth plansehingga Anda tau dengan pasti tentang apa yang dia inginkan. Ingatlah juga untuk membawa birth plantersebut ke tempat provider Anda. Hal ini akan sangat membantu Anda ketika Anda dan pasangan Anda dihadapkan pada suatu pilihan. Karena pada saat proses persalinan nanti, tugas Anda adalah untuk memberi tau sang provider dan membuat keputusan jika Anda dan pasangan Anda dihadapkan pada suatu pilihan. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi Anda untuk mengetahui apa yang pasangan Anda inginkan.



  1. Urus diri Anda sendiri


Saat proses persalinan, tentu saja sang ibu menjadi pusat perhatian dan prioritas, namun, Anda juga akan ikut menemani pasangan Anda di tempat bersalin dan bahkan bermalam disana. Jadi ingatlah untuk membawa keperluan Anda sendiri juga. Bawalah barang-barang dan baju yang nyaman untuk Anda karena Anda harus dapat tetap dalam kondisi segar untuk mendampingi dan menyemangati pasangan Anda. Pastikan juga bahwa Anda makan, minum, dan istirahat yang cukup karena Anda akan membutuhkan banyak energi juga. 



  1. Mengikuti kelas persiapan persalinan bersama pasangan Anda


Cobalah untuk mempelajari terlebih dahulu tentang proses persalinan. Selain dengan membaca, Anda juga dapat mengikuti kelas persiapan persalinan bersama pasangan Anda sehingga Anda tau apa yang akan Anda hadapi nantinya dan dapat membuat pilihan yang baik ketika dihadapkan dengan sesuatu yang tidak terduga. Dengan mengikuti kelas persiapan persalinan bersama, Anda juga akan lebih mengerti, lebih siap, dan lebih tenang, sehingga Anda dapat mendukung dan menenangkan pasangan Anda jika ada sesuatu hal yang terjadi diluar dugaan atau pasangan Anda mulai panik.



  1. Membantu menghitung kontraksi


Saat Anda tau bahwa pasangan Anda mulai merasakan kontraksi, bersiaplah untuk mencatat durasi dan frekuensi kontraksi tersebut. Anda dapat menggunakan timer atau menggunakan aplikasi penghitung kontraksi. Dari durasi dan frekuensi kontraksi inilah Anda dapat tau kapan Anda dan pasangan Anda harus pergi ke tempat provider Anda yang tentunya akan sangat berguna nantinya.



  1. Dokumentasikan setiap momen


Anda dapat mendokumentasikan setiap momen sebagai memori. Anda dapat mengambil beberapa foto atau video mengenai perjalanan Anda dan pasangan Anda selama proses persalinan. Namun, ingatlah untuk mendiskusikan hal ni terlebih dahulu dengan pasangan Anda sehingga pasangan Anda tidak merasa terganggu atau terabaikan.



  1. Beri pujian dan semangat


Mendengar kata kata positif dan motivasi dari Anda dapat memberi dampak yang besar bagi pasangan Anda. Katakan padanya betapa bangga dan cintanya Anda pada pasangan Anda. Beri pasangan Anda berbagai pujian dan semangat ketika pasangan Anda benar-benar membutuhkannya. Jaga suara Anda tetap tenang, Anda akan dapat membantu menenangkan pasangan Anda jika Anda tetap tenang. Ingatlah bahwa dalam proses persalinan, Anda dan pasangan Anda bekerjasama dalam satu tim.



  1. Alihkan perhatian pasangan Anda


Proses persalinan bukanlah sesuatu yang intens yang dapat terjadi begitu saja selama 1-2 jam. Anda dan pasangan Anda bahkan dapat menunggu pembukaan demi pembukaan selama beberapa hari atau ber jam-jam. Saat saat menunggu itu akan bagaikan emotional rollercoasterbagi Anda dan bagi pasangan Anda. Terkadang Anda dan pasangan Anda akan merasa bosan, terlalu bersemangat, cemas, atau bahkan kesal karena orang orang disekitar Anda yang melontarkan beberapa pertanyaan seperti “kok lama?”, “kok belum lahir lahir?”, “kapan lahir?” atau bahkan justru menakut nakuti Anda dan pasangan Anda. Tugas Anda pada saat saat seperti itu adalah untuk mengalihkan perhatian pasangan Anda dari semua itu. Lakukan hal-hal yang disukai pasangan Anda, belikan dia beberapa makanan kecil, gosok dan pijat pasangan Anda, ingatkan pasangan Anda untuk minum yang cukup, berikan dukungan ke pasangan Anda sebanyak yang dia perlukan.



  1. Ketahui batasan Anda


Anda akan mengalami berbagai hal yang belum pernah Anda alami saat Anda mendampingi pasangan Anda di ruang bersalin. Disinilah Anda harus mengetahui batasan batasan Anda sehingga Anda dapat tetap tenang saat mendampingi pasangan Anda di ruang bersalin.



  1. Siapkan diri Anda


Siapkan diri Anda di berbagai hal, baik mental, emosional, fisik, maupun pengetahuan. Ingatlah bahwa setiap proses persalinan itu unik dan tentunya tidak semua proses persalinan dapat berjalan sesuai dengan ekspektasi Anda. Itulah mengapa sangat penting bagi Anda untuk menyiapkan diri Anda. Anda harus dapat membuat keputusan yang baik disaat yang diperlukan, Anda harus tau apa yang harus Anda lakukan jika persalinan pasangan Anda macet, pasangan Anda panik, provider Anda tidak sesuai dengan ekspektasi Anda dan pasangan Anda, provider Anda tidak mendukung, dan yang lainnya. Bahkan Anda juga harus tau hal hal sederhana seperti kapan Anda dan pasangan Anda harus pergi ke tempat provider Anda atau apa saja yang harus Anda bawa ke tempat provider Anda. Tentunya hal hal seperti ini tidak dapat dipelajari selama satu malam. Maka dari itu, Anda harus aktif, memberdayakan diri, dan menyiapkan diri juga.



  1. Ekspresikan emosi Anda


Mungkin masyarakat sering mengajarkan para pria untuk tetap kuat dan tidak menangis. Namun, pada saat-saat ini Anda bebas mengekspresikan emosi Anda. Ini artinya Anda dapat menangis jika Anda memerlukannya. Ibu bukanlah satu satunya yang mengalami perubahan hormon di dalam perjalanan menjadi orang tua, Andapun juga mengalaminya, seperti penurunan hormon testosterone contohnya.  Di saat-saat seperti ini, memendam perasaan Anda justru dapat membuat Anda mengalami postpartum blues. Mengungkapkan perasaan Anda dan merasakan semua hal yang sedang terjadi dapat membantu Anda membersihkan dan menenangkan kondisi emosional Anda. Jika Anda tidak dapat menangis di depan umum, carilah tempat dimana Anda dapat sendiri dan merasa tenang, lalu baca atau lihatlah sesuatu yang dapat memancing keluarnya emosi Anda, lalu biarkan emosi tersebut mengalir dan keluar.


Persalinan dapat menjadi pengalaman yang intens dan luar bisa Cara Menjadi Pendamping Persalinan yang Sempurna


Sumber:


https://www.babble.com/pregnancy/ways-dads-can-emotionally-prep-for-childbirth/


https://www.babycentre.co.uk/a1072/dads-10-ways-to-be-the-perfect-birth-partner


https://www.mother.ly/love/what-dad-can-do10-ways-to-support-your-partner-during-labor


 


 


 


Birth Trauma, Kenali Dan Pahami Lebih Dalam Yuk?!

Birth Trauma selalu saja menjadi bahan diskusi yang menarik bagi saya Birth Trauma, Kenali Dan Pahami Lebih Dalam Yuk?!


Birth Trauma selalu saja menjadi bahan diskusi yang menarik bagi saya. Karena salah satu alasan mengapa saya sangat getol sekali share tentang Gentle Birth adalah karena saya banyak sekali menangani klien klien yang ternyata akar masalah dari keluhan dan masalahnya adalah karena adanya BIRTH TRAUMA.




Birth Trauma selalu saja menjadi bahan diskusi yang menarik bagi saya Birth Trauma, Kenali Dan Pahami Lebih Dalam Yuk?!




Ketika mempelajari dengan mendalam tentang proses kehlahiran, nafas dan oak pikiran bawah sadar, saya sangat kagum dengan bagaimana napas dapat terhubung ke otak kita dan mengambil memori.


Birth Trauma selalu saja menjadi bahan diskusi yang menarik bagi saya Birth Trauma, Kenali Dan Pahami Lebih Dalam Yuk?!


Seorang pelatih nafas bernama  John Stamoulos menyatakan dalam kelas kelasnya dan buku yang disusunnya bahwa  betapa trauma yang terjadi pada proses kelahiran sangat mempengaruhi hidup kita.


Ketika saya membaca artikelnya, Dia menyarankan agar kita mulai menelusuri “riwayat kelahiran” kita dahulu. dan ini yang mengusik saya untuk bertanya kepada ibu saya tentang bagaimana  proses dan apa saja yang terjadi pada saat saya di lahirkan.


Dan saat saya membaca sebuah buku berjudul ‘birth without violent” Dr Frederick Leboyer. Buku ini memberi saya inspirasi untuk memutar ulang “adegan”ketika saya besada di dalam kandungan hingga proses kelahiran.


Dan saatini saya akan ayak Anda nutuk mari memutar kembali memori ini, yaahhh sambil memvisualisasikan tentunya.


Berpura pura Anda adalah Bayi /janin- kita coba rasaban bagaimana rasanya “besada di dalam kandungan IBU?”


Birth Trauma selalu saja menjadi bahan diskusi yang menarik bagi saya Birth Trauma, Kenali Dan Pahami Lebih Dalam Yuk?!

Mari kita bayangkan bahwa Anda adalah bayi yang sedan beristirahat dalam kenyamanan rahim ibumu.


Hangat, dikelilingi oleh daya apung dari cairan ketuban, dinding rahim yang memelukmu hangat, suasana yang relatif gelap dan tenang di dalam, suara yang lembut dan sayup.




Birth Trauma selalu saja menjadi bahan diskusi yang menarik bagi saya Birth Trauma, Kenali Dan Pahami Lebih Dalam Yuk?!

Anda (bayi) merasa segala sesuatu melalui getaran, ritme, cahaya dan bahkan emosi ibumu melalui plasenta.


Sekarang Anda secara fisik siap untuk mengalami transisi ke dunia asing.


Bayangkan Anda Bergerak Perlahan Melalui Jalur Lahir


Sekarang Anda siap untuk bertemu ayah dan ibumu.


Ombak atau gelombang cinta , (kontraksi ) mendorongmu untuk bergerak ke terowongan yang sempit dan Andapun harus merasa di peul Kuat dan diremas, ketika Melalui jalan lahir.


Kekuatan rahim ibumu mendorong dan menarik menggerakkan tubuh Anda, hingga kepala Anda lebih dekat ke jalan lahir.


Sekarang Anda merasakan ketakutan dan ketegangan dan itu Anda rasakan melalui tali pusat dan plasenta yang artinya itu adalah emosi yang dirasakan oleh ibumu.


Rasa takut melahirkan, ibu dan ayah kandung hadir sendiri di ruang yang menyebabkan lebih banyak ketegangan dalam tubuh ibumu, maka rasa sakit.


Birth Trauma selalu saja menjadi bahan diskusi yang menarik bagi saya Birth Trauma, Kenali Dan Pahami Lebih Dalam Yuk?!

Pada saat ini, ibu Anda kewalahan oleh lonjakan (kontraksi), takut sakit dan dia tegang dan menolak rasa itu.


Andapun akhirnya juga merasakan ketakutan yang sama dan menolak bergerak turun ke jalan lahir ibumu.


Otot-otot rahim bekerja hamonis satu sama lain, otot luar sedang mencoba untuk menarik otot-otot bagian atas mendorong Anda turun.


Tapi ketegangannya menyebabkan adanya tahanan itu, membekukan otot otot yang ada di panggul dan jalan lahir ibumu sehingga lebih sulit bagi Anda untuk bergerak melewati lorong yang sempit itu.


Birth Trauma selalu saja menjadi bahan diskusi yang menarik bagi saya Birth Trauma, Kenali Dan Pahami Lebih Dalam Yuk?!

Persalinan berlangsung sangat lama, ibumu stres dan kelelahan.


Jadi,  Anda sedang diperas dan macet ke dinding leher rahim. Tidak bisa bergerak!


Akhirnya, setelah beberapa waktu merasakan perasan, ketegangan dan jeritan ibumu di Setia gelombang rahim, Anda berhasil dilahirkan merasakan udara di Dunia untuk pertama kalinya melalui hidung Anda.


Semakin banyak Anda bergerak, semakin banyak ia berteriak, begitu keras bahwa Anda terkejut dan takut. Akhirnya kepala Anda keluar, tiba-tiba cahaya terang, terlalu terang hingga Anda menutup mata Anda sangat ketat.


Rasakan udara dingin, sangat menakutkan, Anda ingin bernapas tapi dada Anda masih di jalur lahir, begitu ketat sehingga membuat pernapasan mustahil dilakukan.


Akhirnya, tubuh Anda  lahir. Segera seseorang yang tidal Anda kenal dan sangat asing memasukkan selang di hidung dan mulut untuk hisap, dan itu rasanya sangat tidak nyaman.


Apa yang terjadi? Panik,dan  Anda berteriakkeras, namun tidak ada yang peduli. arena semakin Anda beteriak, justes sellan tersebut semakin Kuat dan dalam membuat dadamu sakit..


Menakutkan, menegangkan dan menyakitkan, namun Anda berteriak dengan ketidakberdayaan.


Tidak ada yang peduli.


Lalu kejutan lain munch seketika , yaitu kulit tubuh Anda sedang digosok dengan menggunakan handuk yang kering dennen kasar, ketidaknyamanan dan bahkan menyakitkan Anda rasaban di sekujur tubuhmu saat seseorang menggosok tubuhmu.


Sementara Anda masih menyesuaikan diri dengan menghirup udara dingin melalui paru-paru Anda, dan tiba-tiba suplai oksigen normal yang dipotong, tali pusar Anda sedang dijepit. seketika Anda merasakan udara dingin di tenggorokan seperti terbakar.


Anda merasa lemah!


Namun sesaat kemudian, ketika Anda belum sempat beradaptasi dan masih terkejut dengan semua yang minima Anda, tiba tiba  Anda dibawa ke permukaan dingin keras oley orang tasing tersebut untuk di timbang, di bungkus erat ddengan kain kering dan di letakkan di tempat yang asing dan beberapa jam kemudian akhirnya Anda bertemu ayah dan ibumu.


Akhirnya Anda merasakan irama akrab, detak jantung ibu Anda,


Jika ibu Anda tidak terlalu lelah, ibumu mungkin ingin menyusui Anda. namun ketika ibumu sangat kelelahan dan traumatic, kadang menyentuhmupun, ibumu merasa tidak nyaman.

Apa yang Anda Rasakan?


Sekarang apa yang Anda rasakan tentang dunia baru yang menyambut Anda? Apakah Anda merasakan ikatan Anda dengan ayah dan ibumu? Apakah Anda merasakan kasih dan penyambutan Selamat datang dari mereka.


Perjalanan lahir ke Dunia ini Bisa menjadi peristiwa yang Penuh Trauma


Bayi sangat sensitif . Mereka melihat, mendengar dan merasakan lingkungannya bahkan di dalam rahim. Mereka ingat meskipun mereka mungkin tampaknya lupa saat mereka tumbuh dewasa. Memori dicantumkan di bank memori. yaitu di LIMBIC system di Hypotalamus.


Apa itu  Birth Trauma?


Seringkali diabaikan dari perspektif bayi, trauma kelahiran mengacu pada pengalaman yang mengejutkan bahwa bayi merasa selama perjalanan mereka ke dunia ini dan satu jam pertama setelah lahir.


Birth Trauma selalu saja menjadi bahan diskusi yang menarik bagi saya Birth Trauma, Kenali Dan Pahami Lebih Dalam Yuk?!Ini termasuk lingkungan dan bagaimana bayi sedang ditangani segera setelah lahir. Sering mengejutkan berjuang dalam menghadapi ketidakpastian dalam hidup, merasa kehilangan, tidak berdaya, takut dan tidak ada rasa aman.

Jenis utama Birth Trauma untuk Bayi


Beberapa jenis persalinan yang menurut penelitian sangattraumatik bagi bayi antara lain : persalinan dengan forceps, vacuum, proses persalinan yang lama, persalinan dengan operasi caesar. dimana tiba-tiba bayi beralih ke lingkungan aneh dan penanganan bayi segera setelah lahir dapat menakut-nakuti bayi.


Sebuah proses kelahiran dengan bantuan seperti forceps, vacuum dan dipaksa di tarik keluar, membuat  bayi merasakan penderitaan, rasa sakit dan membuat mereka merasa rentan.


Hal ini dapat membentuk keyakinan mereka seumur hidup bahwa mereka sering membutuhkan bantuan dan kurang percaya diri.


Efek Samping pengekleman dan pemotongan tali pusat terlalu dini


Pengekleman plasenta membuat bayi kehilangan pasokan oksigen ke otak bayi dan memotong sekitar 1/3 dari total volume darah pada bayi yang digunakan terutama untuk membentuk sirkulasi melalui paru-paru  untuk memulai berfungsi dengan semestinya, kehilangan itu merupakan kerugian yang sangat besar untuk sistem kekebalan tubuh bayi dan komplikasi lain.


Menurut Dr Frederick Leboyer, penulis Birth Without Violence, jika tali pusat adalah di jepit terlalu dini sedangkan tali pusat masih berdenyut, pemotongan mendadak mematikan pasokan oksigen ke otak bayi dari plasenta sebelum paru-paru mulai berfungsi menyebabkan kejutan tiba-tiba, maka bayi panik pada bayi menelan udara.


Kekurangan oksigen membuat kelahiran sendiri merupakan pengalaman yang sangat menyakitkan, membingungkan, dan menakutkan bagi bayi.


Sifat dan panjang lahir dapat menentukan keadaan tempurung kepala bayi (tengkorak), dan akibatnya mempengaruhi cara / kepribadiannya, kecerdasan dan bagaimana memori berkembang.


Bahkan The Royal College of Therapy Cranio-sacral mengatakan penyebab umum kolik pada bayi baru lahir adalah trauma kelahiran.


Pernahkah Anda memikirkan?

Bahwa Bayi merekam semda Memori Bahkan Sebelum Lahir


Bayi memiliki perasaan bahkan sebelum mereka dilahirkan. Bayi mengingat semua kejadian setelah kelahiran secara sadar meskipun mereka tampaknya tidak ingat ketika mereka tumbuh dewasa. Bukti menunjukkan selama sesi hipnoterapi, Klien saya dapat memutar ulang adegan selama waktu yang orang itu lahir.


“Siapa yang mengalami  birth trauma?”


Bayi-bayi, ibu dan bahkan ayah dan keluarga


Dalam istilah medis, trauma kelahiran mengacu pada pengalaman perempuan melahirkan yang menyebabkan efek setelahnya.


Abstraks Dari jurnal di The Birth Trauma Association, UK adalah sebagai berikut:


Sebum penelitian yang di tulis oleh

Cheryl Beck (Januari / Februari 2004 Vol 53, No.1) yang berjudul : Birth trauma: in the eye of the beholder.


Menjelaskan bahwa beberapa wanita mengalami peristiwa saat melahirkan (serta dalam kehamilan atau segera setelah lahir) yang akan menggoncangkan jiwa orang normal.


Bagi wanita lain, tidak selalu peristiwa sensasional atau dramatis yang memicu trauma persalinan, tetapi faktor lain seperti kehilangan kendali, kehilangan martabat, sikap bermusuhan atau negatif thinking dengan orang-orang di sekitar mereka, perasaan tidak didengar atau tidak adanya informed consent untuk prosedur medis.


Birth Trauma selalu saja menjadi bahan diskusi yang menarik bagi saya Birth Trauma, Kenali Dan Pahami Lebih Dalam Yuk?!


Gentle Birth memfasilitasi sebuah Transisi Halus untuk Bayi


Apakah transisi dari rahim kelahiran dibuat lambat atau brutal panik dan teror dapat membuat perbedaan antara kelahiran lembut dengan yang trauma.


Trauma kelahiran disimpan di bank memori setiap bayi yang lahir, termasuk kita sendiri. Bagaimana kita dilahirkan mempengaruhi bagaimana kita melahirkan. Ini termasuk ayah juga.


Perencanaan prakonsepsi, Pendidikan Melahirkan dan Persiapan adalah kunci untuk mencegah trauma kelahiran. Mengapa tidak merencanakan awal harmonis dan kelahiran yang indah untuk si kecil Anda? Membuat cerita kelahiran berkesan seumur hidup bagi Anda, bayi Anda dan keluarga tercinta.


Birth Trauma selalu saja menjadi bahan diskusi yang menarik bagi saya Birth Trauma, Kenali Dan Pahami Lebih Dalam Yuk?!


created by : Yesie Aprillia


Posisi Terbaik Ibu Hamil Sehari Hari

Ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi proses kelancaran persalinan.


Ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi proses kelancaran persalinan Posisi Terbaik Ibu Hamil Sehari Hari


Dan saat ini saya Akan membahas tentang posisi keseharian ibu yang bisa mempengaruhi lancar tau tidaknya proses persalinan.


Ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi proses kelancaran persalinan Posisi Terbaik Ibu Hamil Sehari Hari


Maternal Positioning


Maternal Positioning adalah istilah yang digunakan untuk membahas mengenai postur dan posisi yang digunakan ibu hamil agar dapat merasa nyaman dan dapat melahirkan dengan mudah.


Kenapa harus di bahas? karena prnting bagi kita untuk mengetahui posisi ibu hamil yang sepeti apa yang baik untuk kesehatan ibu dan bayi. dan  Maternal positioning berprinsip pada gravitasi dan dipercaya dapat mempengaruhi posisi janin saat masa kehamilan dan saat melahirkan.


Fetal Position


Ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi proses kelancaran persalinan Posisi Terbaik Ibu Hamil Sehari Hari


Fetal Positioning adalah kalimat yang digunakan untuk berbicara mengenai posisi bayi di dalam rahim. Posisi bayi dapat berubah rubah saat persalinan maupun dalam proses persalinan. Namun, saya percaya bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan posisi bayi.


Kuncinya adalah “BALANCE”. Dengan tubuh yang seimbang, saat Anda melakukan posisi atau gerakan yang berprinsip kepada gravitasi, bayi Anda dapat berubah dari posterior ke anterior atau dari presentasi pantat ke presentasi kepala.


Kontraksi persalinan  juga dapat membantu posisi posterior menjadi anterior seiring berjalannya waktu. Waktu yang diperlukan bayi untuk merubah posisinya mungkin akan dipersingkat ketika Anda melakukan posisi atau gerakan yang “gravity-friendly”jika rahim Anda seimbang.


Ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi proses kelancaran persalinan Posisi Terbaik Ibu Hamil Sehari Hari


Posisi ibu Hamil


Ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi proses kelancaran persalinan Posisi Terbaik Ibu Hamil Sehari Hari


Berikut ini adalah beberapa posisi yang dapat membantu Anda saat masa kehamilan:



  • Duduklah dengan pinggul yang lebih tinggi dari lutut Anda;baik di atas birthing ball, di cursi maupun ketika duduk di lantai

  • Duduklah dengan punggung tegak, memanjangkan tulang belakang dan dada terbuka;

  • Duduklah diatas birthing ball dengan pinggul yang setara atau lebih tinggi dari lutut Anda;

  • Melakukan Forward-Leaning Inversion sehari sekali

  • Melakukan squat dengan punggung menempel ke dinding dan lutut ditekuk (lakukan secara rutin dan bertahap hingga Anda dapat melakukan squat selama 2-5 menit);

  • Menjaga bahu Anda tetap terbuka dengan tetap rileks ketika Anda berjalan cepat.


Posisi Ibu saat dalam proses persalinan


Ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi proses kelancaran persalinan Posisi Terbaik Ibu Hamil Sehari Hari


Berikut ini adalah beberapa posisi yang dapat membantu Anda dalam persalinan:



  • Semua di dalam Pregnancy Maternal Positionditambah,

  • Berdiri dengan tubuh condong ke depan dengan lutut sedikit ditekuk;

  • Berdiri dengan tubuh condong ke belakang (menegakkan atau bahkan sedikit menekuk punggung Anda ke belakang);

  • Berdiri dengan punggung bawah menempel di dinding sambil mengangkat perut bawah Anda ketika kontraksi

  • Berlutut

  • Berlutut dengan tubuh condog ke depan di kursi atau tempat tidur atau birthing ball

  • Berlutut dengan tangan memegang selendang atau tali atau tiang di depan Anda

  • Melakukan posisi yoga child pose

  • Memegang rebozo diatas Anda sembari berdiri dengan lutut yang sedikit ditekuk


Posisi Istirahat yang Harus Dihindari


Ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi proses kelancaran persalinan Posisi Terbaik Ibu Hamil Sehari Hari


Ada waktu dalam kehamilan maupun persalinan dimana Anda benar benar boleh terlentang. Namun, ketika beristirahat, akan jauh lebih baik jika Anda tidak terus terusan berada di posisi terlentang demi posisi bayi yang optimal.


Mungkin pada awalnya Anda akan merasa tidak nyaman di bagian punggung. Namun, di akhir persalinan, sirkulasi darah Anda akan jauh lebih baik jika Anda tidur miring dibanding jika Anda tidur terlentang. Untuk beberapa wanita, maternal positioningyang baik termasuk tidak duduk bersandar dan duduk di tulang ekor.


Upayakan untuk tidur sesuai dengan posisi punggung janin Anda. Namun, jika Anda tidak mengetahui posisi punggung janin Anda, tidurlah dengan posisi yang paling nyaman untuk Anda. Anda juga bisa tidur miring ke kanan.


Seringkali ibu hamil dianjurkan untuk tidur miring ke kiri, anjuran ini diberikan karena secara anatomi ada pembuluh darah besar yang menuju ke rahim dimana letaknya di sisi kanan tulang belakang, ketika Anda tidur miring ke kanan saat hamil tua dalam waktu yang lama, dikhawatirkan gaya gravitasi dan berat rahim membuat pembuluh darah tersebut “kegencet”. Namun, usahakan untuk menyeimbangkan antara sisi kanan dan kiri agar panggul Anda seimbang.


Gunakan bantal yang dapat menyangga badan dan kaki Anda sehingga pinggul Anda dapat terbuka dan Anda merasa lebih nyaman


Kesimpulan


Ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi proses kelancaran persalinan Posisi Terbaik Ibu Hamil Sehari Hari


Kesimpulannya adalah:



  • Maternal positionsaja tidaklah cukup untuk memastikan bahwa bayi Anda akan berada dalam posisi yang optimal ketika proses persalinan dimulai

  • Keseimbangan pada uterus dan panggul merupakan kunci keberhasilan mengoptimalkan posisi bayi menggunakan maternal positioning

  • Kunci dari maternal positioningadalah GRAVITASI


edited by : Gabriele Nadina Elloianza


Trauma Persalinan karena Tindakan Tenaga Kesehatan

Proses persalinan adalah proses yang sangat berkesan. entah kesannya baik atau buruk, pasti kesan tersebut akat teringat dan terekam seumur hidup. dan pastinya akan mempengaruhi mulai dari “ide, persepsi, believe sampai attitude” seseorang dikemudian hari.


Proses persalinan adalah proses yang sangat berkesan Trauma Persalinan karena Tindakan Tenaga KesehatanKetika pengalaman dan cerita proses persalinan menjadisesuatu hal yang traumatik, pasti trauma tersebut akan terkenang sampai seumur hidup, bahkan bisa membuat atau menciptakan trauma baru kembali. demikian pula ketika proses persalinan meninggalkan kesan positif, tentu akan terkenang seumur hidup juga.


 


 


ada saja yang sebenernya berpotensi untuk menciptakan trauma persalinan?



  1. Persalinan yang lama dan menyakitkan

  2. Proses Induksi persalinan

  3. Rasa sakit yang menyiksa ibu saat proses persalinan

  4. Perasaan hilangnya kendali /kontrol saat proses persalinan

  5. Tingginya Tingkati intervensi medis

  6. Secio Cesarea

  7. Perlakuan yang kasar/kurang menyenangkan dari penolong persalinan (bidan, dokter/ paramedis)

  8. Kekhawatiran akan keselamatan bayi

  9. Bayi yang dirawat di dalam NICU

  10. Trauma sebelumnya (contoh, di dalam masa kanak-kanak, dengan persalinan yang sebelumnya atau pelecehan seksual semasa anak-anak)


nah, pada kesempatan kali ini, saya akan membahas lebih lanjut tentang point no 7. yaitu trauma yang disebabkan karena intervensi dan interaksi petugas kesehatan.


Banyak ibu  mengalami trauma psikologis saat melahirkan. proses Kelahiran yang traumatis dapat berdampak pada kesehatan mental dan hubungan keluarga pasca kelahiran. sehingga sangatlah penting untuk memahami bagaimana faktor interpersonal mempengaruhi pengalaman traumatik seorang perempuan.


pembahasan pada poin ke 7 ini juga saya padukan dengan sebuah jurnal ilmiah yang memang mambahas tentang trauma persalinan yang terjadi karena asuhan kebidanan  dan Anda bisa mengaksesnya disini.


dari jurnal ilmiah tersebut di dapatkan temuan bahwa :

terdapat 5 (Empat) hal yang diidentifikasi sebagai faktor penyebab trauma persalinan :



  1. Memprioritaskan agenda provider

  2. Mengabaikan pengetahuan yang dimiliki Klien

  3. Informasi yang tidak jujur atau mengandung kebohongan dan ancaman

  4. Kekerasan


tidak sedikit ibu maupun keluarga merasa bahwa tindakan, intervensi maupun perawatan/asuhan yang diberlakukan kepadanya terjadi karena provider lebih memprioritaskan agenda mereka sendiri dibandingkan kebutuhan sang ibu tersebut. dan hal ini dapat mengakibatkan intervensi yang tidak perlu terjadi, karena provider berusaha membuat proses kelahiran ini memenuhi preferensi mereka sendiri. Dalam beberapa kasus, seorang klien menjadi sumber belajar bagi staf rumah sakit untuk mengamati atau berlatih (biasanya ini terjadi di RS atau Puskesmas atau pusat layanan kesehatan yang digunakan sebagai tempat praktek pendidikan tenaga kesehatan). selai itu, tidak jarang juga karena hal hal “khusus” tertentu dari pihak provider, membuat akhirnya sebuah intervensi yang sebenarnya tidak perlu, akhirnya di berlakukan. misalnya (motivasi untuk segera SC di tanggal dan waktu tertentu karena petugas yang bersangkutan hanya bisa melayani pada saat itu saja ==> contoh provider akan pergi seminar, hendak cuti atau ada meeting)


Pengetahuan yyang dimiliki ibu (klien) tentang kemajuan persalinan dan kesejahteraan janin di abaikan oleh petugas kesehatan. bahkan tidak jarang provider menggunakan kebohongan dan ancaman untuk memaksa wanita mematuhi prosedur. Secara khusus, kebohongan dan ancaman ini terkait dengan kesejahteraan bayi. beberapa klien  juga menggambarkan tindakan yang kasar sehingga Bagi beberapa klien, tindakan ini memicu terekamnya kenangan akan penyerangan seksual.


 


Proses persalinan adalah proses yang sangat berkesan Trauma Persalinan karena Tindakan Tenaga Kesehatan


KESIMPULAN: Tindakan dan interaksi penyedia layanan dapat mempengaruhi pengalaman traumatik seorang ibu selama proses persalinan . untuk itu diperlukan cara  untuk mengatasi trauma kelahiran akibat hubungan interpersonal baik pada tingkat makro maupun mikro. Pengembangan dan penyediaan layanan persalinan perlu did


ukung oleh paradigma dan kerangka kerja yang memprioritaskan kebutuhan fisik dan emosional seorang ibu. provider pun membutuhkan pelatihan dan dukungan untuk meminimalkan trauma ini.


dan ternyata kesehatan mental seorang suami/pendamping persalinan/ birth partner sangat berpengaruh dengan trauma. penelitiannya bisa di akses disini


dan dari penelitian yang ada tersebut di dapatkan kesimpulan bahwa :


Menurut persepsi dan pengalaman para pendamping persalinan (ayah), ada kekurangan komunikasi yang signifikan antara provider dan pendamping persalinan (ayah), dan pendamping persalinan (ayah) mengalami rasa marjinalisasi sebelum, selama, dan setelah kelahiran traumatis. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor ini berkontribusi terhadap persepsi trauma pada sampel saat ini. Sementara banyak pendamping persalinan (ayah) melaporkan dampak negatif dari kelahiran traumatis pada diri mereka dan hubungan mereka.


sumber :


http://bmcpregnancychildbirth.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12884-016-1197-0


http://research.usc.edu.au/vital/access/manager/Repository/usc:20560?queryType=vitalDismax&sort=ss_dateNormalized%5C&query=reed&f0=sm_creator%3A%22Reed%2C+R%22


 


Memupus Birth Trauma Melalui Persalinan Nyaman

Ibuku beberapa kali bercerita, proses beliau saat malahirkanku dulu merupakan sebuah proses yang panjang dan menyakitkan.



“Sakitnya itu dari pagi sampai pagi lagi. Bahkan baru malam keesokan harinya kamu lahir, dan larane (sakit sekali-red), Masya Allah…”



Siapa yang tidak takut dengan persalinan jika kita terus dijejali dengan cerita menyakitkan tentangnya? Bahkan aku sempat kepikiran buat melakukan SC (Operasi caesar-red) untuk mengeluarkan janin di perutku ini. Takut? TENTU!


Tapi beberapa minggu kemudian, aku ngobrol-ngobrol dengan temanku yang sudah mempunyai dua anak. Dia bercerita, persalinan anaknya yang kedua sangat menyenangkan. Rasa sakit yang biasa datang melanda, berhasil dia handle dengan ketenangan dan sukacita. Apa rahasianya? Temanku menyarakankan aku untuk ikut yoga.


Kemudian dia mengenalkanku dengan istilah gentle birth. Awal mula aku mencaritahu tentang gentle birth, yang muncul di layar laptopku adalah persalinan homebirth-nya Dewi Lestari. Persalinan yang hanya dipandu oleh suaminya, bayi keluar mak prucut langsung ditangkap oleh tangan suaminya. Indah dan cantik. Bahkan tapa jahitan! Aku yang takut sama segala macam jarum ini langsung bertekad mencaritahu lebih banyak tentang gentle birth.


Kesibukanku memang diatas rata-rata. Hamil sambil kerja dan lembur membuatku lupa bahwa aku harus mempersiapkan persalinanku, padahal tahu-tahu aku kehamilanku sudah menginjak trimester ketiga. Alhasil mau nggak mau aku harus stop segala ini itu, memfokuskan diri pada persiapan persalinan.


Aku ikut prenatal yoga di kelasnya Kak Yesie, meskipun tiap ikut kelasnya, selalu nggak pernah ketemu Kak Yesie-nya. Kurang beruntung sekali aku! Aku juga langsung membeli gymball/birthing ball dan berniat membeli yoga matt (hanya berniat saja, dasarnya aku ga rajin-rajin amat, akhirnya ga jadi deh beli yoga matt. Hiks).


Pada usia kehamilanku yang ke-36 minggu. Aku mulai rutin latihan di gymball bahkan pas udah 37 minggu! Telat banget nggak sih? Tapi, memang, nggak pernah ada kata terlambat kalau semua sudah diniatkan dari awal.


Bahkan semesta pun mendukung (istilahnya sih mestakung). Meskipun semua ilmu baru kupelajari mendekati masa persalinan, bahkan gabung dengan grup Whatsapp (dulu masih Whatsapp pas masih belum pindah ke Telegram) Laskar Gentle Birth (LGB) yang punya motto empowered to empower, semua bahan pelajaran terasa asik.



Kalau nggak lewat grup ini, gimana aku bisa tahu gimana caranya santai menjelang persalinan?



Jumat tanggal 5 Agustus pagi, waktu aku pipis, aku lihat ada flek di celanaku. Wah, batinku, jangan-jangan ini sudah saatnya. Sebentar lagi tamu agungku dateng nih. Okay, santai aja dulu. Jumat pagi itu setelah suami berangkat ke kantor, aku ke Puskesmas untuk minta surat rujukan persalinan. Tapi sayang banget, loket BPJS udah tutup.


Ya sudah, daripada bengong di rumah nggak ngapa-ngapain, aku main ke rumah temenku. Enaknya, naik motor sendirian, pelan-pelan, lewat perdesaan. Adem! Siangnya, aku pulang.


Sebelum pulang, sempetin beli es kelapa muda dan gorengan dulu buat camilan di rumah nantinya. Sampe rumah, cek dan ricek lagi, flek yang keluar makin banyak.


Bahkan sudah berupa darah. Okay, sebentar lagi nih. Lemesin aja, Tshay! Akhirnya santai beneran, aku bobo siang dulu sembari nunggu suami pulang kantor.


Sepulangnya suami dari kantor, aku cerita ini itu. Cek pake kertas lakmus segala, nggak ada ketuban yang ikut rembes kok. Aman!


Malemnya, aku sama suami mau jalan-jalan. Yaudah, kita jalan-jalan, naik motor, nyari makan malam plus cek ricek film yang diputer di XXI. Film yang aku tunggu udah nongol di bioskop rupanya, ayoklah malam itu kita nonton.


Selesai nonton, kita balik, dan… kehujanan! Tapi nggak tahu kenapa rasanya seneng malahan. Kapan lagi ngerasain kehujanan berdua, apalagi kalo udah ada bayi kecilnya ntar, yekaaaan…


Sampai rumah menjelang tengah malam, kami bersiap tidur. Tapi, sejak di bioskop tadi, aku mulai ngrasain adanya gelombang cinta meskipun belum intens. Masih dibawa santai. Jam satu malem, baru ngerasain lagi dan kali ini aku setel aplikasi Kontraksi Nyaman-nya Bidan Yesie. Nyess… udah tiap setengah jam sekali. Ah, masih lama, bobok dulu deh kita. Bobok nyaman deh. Suami sampai bilang: “Kamu tenang banget sih padahal udah mulai kontraksi gitu.”


Kan semuanya dibawa santai aja kan yaah masih jauhan ini jarak antar kontraksinya.


Sabtu paginya masih bisa kemana-mana dong. Kami berdua ke Puskesmas (balik lagi kesini deh demi rujukan BPJS), dan akhirnya dapet. Selesai dari Puskesmas, kami nyari makan siang dan terdamparlah kami di McDonnald Jombor.


Selesainya, masih dilanjutin jalan-jalan lagi. Nyari Pokemon. Yak, serius, akunya masih belum mau ke Rumah Sakit karena kontraksi masih per-15 menit sekali. Toh sorenya kami ada jadwal kontrol sama Obsgyn, jadi biar sekalian aja deh ya.


Sore pukul 16.00, kami ke RS. Janjian ketemu sama Obsgyn dan kami cerita kalo sudah ada flek dan kontraksi intens. Akhirnya dicek sama dokterku dan tau-tau udah bukaan 2. Posisi rahim sudah mengarah anterior dan rahim sudah mulai menipis. Alhasil aku disuruh ga perlu pulang kembali. Rumahnya jauh Bok. Mulailah kami buka kamar di RS Sakina Idaman. Dokter bilang, jam 20.00 nanti mau cek bukaan lagi. Oke cuss.


Karena kita belum berniat mau mondok di RS, jadinya belum bawa apa-apa. Jam 17.00 suami pulang buat ambil hospital bag dan semacamnya. Tapi entah jam 18.00, rasanya gelombang cinta makin aduhai. Aku kontak suamiku buat segera balik ke RS. Udah per 5 menit sekali kontraksinya.


Jam 19.00 aku manggil perawat buat minta tolong dicek lagi. Kayaknya nggak lama lagi nih, feeling-ku. Dan benar, pas dicek, udah bukaan 4 waktu itu. Oke, aku langsung dibawa ke Ruang Bersalin. Pasang ini itu, diambil darahnya buat dicek segala macem, eh jam 20.00 udah bukaan lengkap.


10 menit kemudian adek bayi keluar. Cepet aja rasanya. Langsung Inisiasi Menyusu Dini dan langsung bisa peluk-peluk si adek bayi. Para perawat bilang, prosesku ini cepet banget. Dan Alhamdulillah, meskipun belum menguasai Gentle Birth secara holistic, ada beberapa pelajaran yang aku petik dari proses persalinanku ini. Bukankah experience is the best teacher, uh?


Tentu ada beberapa kesimpulan yang, selain akhirnya aku bisa memotong ketakutanku sendiri tentang persepsi bersalin yang sakitnya (kata Ibuku, pas melahirkanku) dari pagi sampai pagi lagi, kesadaran bahwa ketidaksempurnaanku dalam memberikan persalinan yang tenang untuk anakku membuatku ingin terus memberdayakan diri lagi.


Meskipun demikian, bayiku tumbuh menjadi bayi yang tenang dan jaraaaang sekali menangis. Bayiku seakan paham jika kuajak berbicara, dan aku sungguh bersyukur dengan kegiatan mengaffirmasi adek bayi sejak dalam kandungan, sehingga sejak lahir pun dia sudah mampu mengenali suara dan detak jantung mamanya.


Pada akhirnya tentu ucapan terima kasih nggak henti-hentinya aku ucapkan kepada rekan-rekan grup Laskar Gentle Birth (LGB) yang selalu sharing pengetahuan dan pengalaman yang bisa menjadi pembelajaran bagi kami-kami yang masih hamil, kepada Bidan Yesie atas segalanya, termasuk aplikasi Kontraksi Nyaman-nya dan berbagai relaksasi yang diajarkan, kepada keluarga yang selalu mendoakan yang terbaik, dan tentu saja kepada suami yang mendampingi selama proses melahirkan berlangsung, yang bisa bikin oksitosinku meluap hingga bukaan demi bukaan bisa berjalan mulus, lancar, dan cepat.


Saking entah kenapanya, sempet ketiduran juga pas di ruang bersalin, dan dibangunin Suami. Emakmu emang rada-rada, Dek. Dan ternyata bener lho, semakin kita paham dan aware terhadap tubuh kita, percaya sama bayi kita, semua kerasa menyenangkan. Tadinya aku udah agak ketar ketir kan, baru bukaan 2 udah disuruh ngamar di RS, eh tapi ternyata dari bukaan 2 sampai lahiran itu cuma butuh waktu 4 jam doang!


Meski demikian, aku juga masih punya banyak PR untuk kehamilan dan persalinan berikutnya. Eh, emang kapan mau hamil lagi? Nunggu Adek masuk sekolah dulu, kali, Buk! J


Salam Hangat,


Mama dan Papa dari


Dresanala Sinna Pramono Putri, gentle baby yang selalu tenang dan jarang menangis


Kami Lahir kembali menjadi Ibu dan Ayah




Flashback 36 th yang lalu, kehadiran saya adalah sesuatu yang tidak direncanakan, ibu saya hamil dalam kondisi tidak siap lahir batin, sehingga membuatnya sangat tertekan. Sejak dalam kandungan saya sudah akrab dengan rasa sedih, marah dan kecewa. Bapak pun tidak mendampingi ibu pada saat kelahiran saya. Trauma sejak dalam kandungan membuat saya tumbuh menjadi pribadi yang sering merasa sedih dan mudah marah tanpa sebab yang jelas.


24 th berlalu, akhirnya saya menikah dengan seseorang yang berbeda jauh karakternya dengan saya. Dia sangat tenang, pendiam dan sabar. Sebulan setelah menikah saya hamil. Pada tahun 2006, saya menjalani proses persalinan tanpa dibekali ilmu apapun & hanya pasrah pada tenaga kesehatan (NaKes) yang ada di dalam pikiran kami adalah = yang penting bayi kami lahir dengan selamat. selamat disini artinya Hidup, sehat secara fisik (tidak cacat). saat itu, Suami saya tidak mendampingi saya secara langsung, saya melalui proses persalinan itu sendiri.


Proses yg panjang lebih dari 24 jam, berbagai intervensi pihak medis saya terima tanpa perlawanan. Saya diinduksi via infus, suasana di ruang bersalin pun sangat gaduh, penuh teriakan bahkan saya dimarahi oleh bidan karena cara mengejan saya yang dianggap salah. Beberapa kali perut saya ditekan dengan sangat keras oleh bidan untuk mendorong keluar bayi saya hingga akhirnya anak pertama kami lahir dengan vaccum (2x) serta episiotomi dengan jahitan yang cukup banyak.


Saya dengan tinggi badan (TB) 143cm melahirkan bayi 3,3kg adalah sesuatu yang luar biasa buat saya. Pasca persalinan saya tidak Inisiasi menyusu Dini (IMD), juga tidak bisa rooming in dengan bayi saya, selama 3 hari kami tidak bertemu. ASI saya keluar dengan sia-sia, bayi saya diberi sufor atas ijin suami saya yang juga tidak punya pengetahuan apapun tentang bayi & ASI. Sesampainya di rumah saya mulai belajar memberi ASI, namun trauma persalinan membuat saya merasa sedih, marah & kecewa setiap kali melihat bayi saya. Saat ia berusia 4 bln barulah saya mulai sedikit bisa menerima keberadaannya, memeluknya & menciumnya.


Namun trauma itu sepertinya membekas di alam bawah sadar saya, dengan pola asuh & didik yang asal-asalan saya membesarkannya, saat emosi tidak terkendali kadang saya melakukan kekerasan verbal & fisik terhadapnya. Dan setiap saya marah, saya seperti melihat luapan emosi yang sama seperti ibu saya. Ini seperti lingkaran emosi (trauma) yang terus berulang, dan saya ingin menghentikannya. Hingga pada tahun 2012 yang lalu saya mulai mengenal ilmu parenting, saya banyak introspeksi diri, dan yang pertama harus saya lakukan adalah memaafkan diri sendiri & mengikhlaskan semua hal buruk yang pernah terjadi.


Berat, sangat berat, tapi saya sudah bertekad untuk menghentikan rantai trauma itu. Dan karena trauma itu pula lah yg membuat saya enggan memiliki anak lagi. Sampai pada tahun 2015, saya mulai mengenal gentle birth. Saya memberanikan diri untuk memulai program anak kedua, tapi saya masih ragu, apakah saya nanti bisa melahirkan anak dengan minim trauma? Saya mulai cari tau lebih banyak tentang gentle birth, belajar melalui website Bidan Kita dan mulai kontak untuk kelas hypnobirthing dengan bidan Yesie.


Dari sana saya & suami mulai belajar banyak tentang kehamilan & persalinan. Pikiran kami mulai terbuka, tidak ada kehamilan yang biasa, semua luar biasa & banyak yang harus dipersiapkan untuk menyambut buah hati kami yang kedua. Saya mulai yoga, berlatih pernafasan & meditasi. Suami saya pun mulai peduli dengan kehamilan saya, perhatiannya luar biasa, dia pun belajar hypnobirthing & relaksasi, rajin memuji setiap saya melakukan nafas perut dengan benar.



Saya adalah ibu hamil yang sangat bahagia.



Kami pun rajin ngobrol dengan adek di perut. Afirmasi hal hal baik, agar persalinan saya nanti dapat berjalan lancar & nyaman.

Akhirnya tibalah saat yang dinanti, bulan mei 2016 si adek datang dengan cerita baru, semua ekstra cepat, berbeda dengan abangnya yang bukaan 2 ke 4 sampai 2 hari. Kekuatan doa & afirmasi ternyata benar benar luar biasa. Proses persalinan saya diberi kelancaran, walaupun maju 2 minggu dr HPL tapi saya merasa cukup siap, karena memang sudah ada feeling yang kuat bahwa adek akan maju lahirnya. Di tengah meditasi pukul 10 pagi saya mendapat tanda cinta (flek), baru saya mulai packing untuk persiapan ke RS, tiap gelombang cinta datang saya goyang pinggul ato duduk di gymball lalu inhale exhale sambil mendengarkan suara merdu Mbak Yesie di kontraksi nyaman. Dan setiap kontraksi datang saya making space & ngobrol sama adek bahwa kami akan segera bertemu, agar adek tetap sehat & semangat untuk menuju jalan lahir.


Setiap kontraksi (gelombang cinta) terasa sangat nyaman, sampai suami saya bingung karena saya tidak mengeluh sakit malah santai, tertawa & tersenyum (mungkin ini juga karena seringnya adek memberi saya latihan dengan kontraksi- kotraksi palsu yang semakin sering mendekati saat saat persalinan, sehingga saya sudah terbiasa menikmatinya dengan nyaman). Kemudian interval kontraksi pun mulai rapat, saya minta tolong bidan dekat rumah untuk cek VT (pembukaan), pukul 16.30 bukaan 2 longgar, lanjut relaksasi dulu lalu mandi air hangat. Kemudian gelombang cinta pun semakin kuat, mendadak “pyoook” pukul 20.00 ketuban pecah, lantai kamar banjir.


Reaksi pertama saya kaget tapi juga senang, nggak sabar pengen segera ketemu adek. Kalimat pertama saya saat pecah ketuban adalah “Santai, tenang..semua akan baik baik saja”, sambil senyum dan minum sebanyak-banyaknya. Saat siap siap mau berangkat ke RS, bidan dekat rumah kembali datang untuk cek VT ternyata sudah bukaan 4 longgar. Lalu taksi datang, kami langsung meluncur ke RS. Alhmdulillah sesuai afirmasi, jalanan lancar walaupun malam minggu. Sampai RS saya tidak diperbolehkan turun dari tempat tidur, terpaksa diam diam angkat bokong lalu pelan pelan goyang pinggul, making space untuk memudahkan adek turun ke jalan lahir. Pukul 22.30 lanjut ke bukaan 6-7, lalu pukul 24.00 sudah bukaan komplit. Tapi dokter belum datang, saya hanya ditemani perawat dan bidan yg membimbing saya untuk terus atur nafas. Suami saya berada disamping saya, memeluk dan menggenggam tangan saya, terus mengingatkan untuk relaks, nafas perut sambil memperdengarkan musik relaksasi yg membuat saya merasa sangat nyaman. Setiap jeda antar kontraksi saya ngobrol, bercanda dengan para bidan. Mereka bingung, lalu saya bilang kalau saya belajar hypnobirthing dan gentle birth dengan bidan Yesie, komentar mereka adalah “pantes ibu kok tenang sekali” (hehee..bangga #kibasrambut).


Lalu dokter datang, gelombang cinta makin kuat, hampir tidak ada jeda. Posisi adek yang kurang optimal membuatnya tertahan di jalan lahir, dokter terpaksa ambil keputusan kalau hingga pukul 02.00 belum keluar akan diambil tindakan (vakum). Saya sudah lemas hampir kehabisan tenaga, lalu saya bilang..”Ayo nak semangat, kita percepat, ibu pengen segera ketemu adek”. Bismillah lalu dengan one final push..lahirlah anak kami pada pukul 01.50. Ternyata adek pinter, dia tidak mau di vakum..keluar 10 menit sebelum limit dari dokter untuk vakum.




 kehadiran saya adalah sesuatu yang tidak direncanakan Kami Lahir kembali menjadi Ibu dan Ayah





Setelah dibersihkan sebentar, langsung diletakkan di perut saya untuk IMD sambil saya menikmati jahitan dokter. Saya kembali melahirkan bayi dg BB 3,3kg namun persalinan kali ini terasa sangat nyaman, walaupun tidak sempurna dan harus menerima beberapa jahitan tapi saya tidak kecewa karena saya sudah siap. “Knowledge is Power” begitu kata bidan Yesie. Saya tenang selama persalinan karena saya tau tubuh dan bayi saya sedang bekerja, dan saya menikmati setiap prosesnya. Hal yang luar biasa setelah persalinan yang nyaman ini adalah saya merasa healing trauma dari persalinan anak pertama saya 10 thn yang lalu. Saya menjadi release dan bisa memaafkan kejadian kejadian buruk dimasa lalu. Selanjutnya setiap ada yg menanyakan tentang proses persalinan saya, yang saya ceritakan dan yang saya ingat hanyalah rasa nyaman dan bahagia. Bukan menyebarkan rasa takut seperti yg saya lakukan saat persalinan pertama saya dulu.


Setelah melalui gentle birth sekarang kami bersiap untuk gentle parenting bagi anak kedua kami, seperti yang Angga Setyawan (praktisi & penulis buku parenting) katakan bahwa “Hadiah terbaik untuk anak adalah orangtua yg mau belajar”. Kami ingin memberikan yang terbaik untuk anak2 kami, karena itu kami mau belajar.

Terima kasih sebesar-besarnya untuk Mbak Yesie, telah berbagi ilmu dan memberi kesempatan saya dan suami untuk belajar tentang gentle birth, yang membuat kami terlahir kembali menjadi orangtua yang in shaa Allah lebih baik lagi. Mbak mbak bidan di Bidan Kita yg telah membantu & membimbing kami selama proses kehamilan & persalinan. Ibu ibu hebat di LGB (Laskar Gentle Birth) dengan sharing pengalaman & ilmunya yang luar biasa. Terakhir namun juga yg utama adalah terima kasih untuk suamiku yang mau & sanggup belajar bersama, terus mendukung & mendampingi serta menciptakan suasana tenang & nyaman saat proses kehamilan, persalinan hingga menyusui .. i luv you  kehadiran saya adalah sesuatu yang tidak direncanakan Kami Lahir kembali menjadi Ibu dan Ayah.

Semoga cerita ini bisa menginspirasi para ibu dan calon ibu, untuk bisa melahirkan dengan gentle & minim trauma. Terima kasih.





Berdayakan Dirimu (Birth Story)

Cerita tentang kehamilan dan melahirkan adalah salah satu terita yang bersejarah dalam kehidupan kita. sebuah cerita yang tidak akan terlupakan dan selalu saja dikenang maupun terkenang. siapapun yang terlibat dalam proses persalinan, pasti bisa menceritakan kembali proses tersebut.


dan semua orang yang mendengarkan cerita atau kisah persalinan pasti juga tertarik dan ingin tahu. bahkan siapapun yang mendengar kisah bisa saja tersugesti. Nah apa jadinya apabila kisah kelahiran menjadi sebuah cerita yang menyeramkan dan menakutkan? sayang sekali bukan?


Nah saya senang sekali ketika apa yang saya lakukan selama ini yaitu memberikan edukasi kepada para ibu ibu melalui berbagai media baik buku, web, sosial media bisa menginspirasi Anda dan membuat Anda mau memberdayakan diri. karena harapan saya adalah semakin banyak ibu, keluarga dan bayi yang merasakan pengalaman positif saat melahirkan dan dilahirkan. dan ini adalah salah satu cerita kisah kelahiran seorang ibu dari Jakarta.



semoga bisa menginspirasi



dear,bu yesie

saya wahyuni dijakarta dan ini adalah kehamilan anak kedua saya.saya mau mengucapkan makasih untuk sharing ilmunya tentang Gentle Birth diberbagai media.

saya memang bukan peserta private class, atau member laskar gentle birth. karena waktu ngadain private class dijakarta,jadwal suami saya lagi dinas keluar kota. jadilah saya akhirnya belajar memberdayakan diri lewat buku dan web bidan kita serta mencari beberapa fasilitator di Jakarta untuk untuk pemberdayaan diri.


saat mulai memberdayakan diri memang agak terlambat karena baru mulai saat kehamilan 27w.

tapi alhamdulillah dengan ketekunan disemester akhir,saya bisa melahirkan anak kedua dengan sangat nyaman berbeda dengan anak pertama yang walau melahirkan lewat vagina tapi penuh intervensi medis.


selama trisemester ketiga  saya rutin mengikuti kelas prenatal yoga dan yoga dirumah dan melakukan komunikasi dan afirmasi dengan janin sepulang kantor atau curi curi waktu dikantor untuk pelvic rock dikamar mandi dengan bantuan tembok.

proses persalinan anak kedua saya pada saat kehamilan berumur 40w lebih. saat itu termasuk dag dig dug, bukan karena sudah lewat perkiraan,tapi lebih karena obgyn pilihan saya  sudah selesai praktek dan akan cuti haji. untungnya info tersebut sudah saya ketahui jauh-jauh hari, jadi afirmasi setiap saya relaksasi saya ubah,”nak lahirnya diwaktu yang tepat ya,di saat dokter belum brangkat haji”. Dan alhamdulillah,saya masih berjodoh dengan beliau,makasih ya nak sudah dengerin bunda.


Proses persalinannya lebih singkat dari anak pertama. Tanda cinta dari si kecil berupa flek datang tgl17 agustus 2016 sekitar jam 2 pagi,tapi kontraksi belum rutin, dan saya kembali istirahat.

paginya kontraksi sudah mulai terasa,tapi berhubung suami janji dengan anak pertama ikut sepeda hias,jadi ke rumah sakit ditunda selesai suami dan anak pertma ikut sepeda hias dan saya masih sempat bikin pisang goreng dan bersih bersih rumah.


Cerita tentang kehamilan dan melahirkan adalah salah satu terita yang bersejarah dalam keh Berdayakan Dirimu (Birth Story)

Selesai semua urusan 17 agustusan kami berangkat ke rs. Dirumah sakit saya ditawari didorong dengan kursi roda dan naik lift,tapi saya lebih memilih  jalan dan naik tangga ke ruang.obervasi. Saya diobervasi selama 5jam. selama observasi saya melakukan relaksasi dan pelvic rocking di bola maupun dengan bersandar ke tembok.

setelah 5jam observasi saya diberi pilihan pulang dulu atau mau melakukan induksi karena pembukaan masih bukaan 2cm dan kontraksi blm rutin sedang hpl saya sudah lewat dan diberi di date sampai tgl20. saya memilih pulang dlu dan menunggu gelombang cinta yang lebih kuat. beruntung saya sempat memesan essential oil lavender dari young living yang bisa membantu memperlancar pembukaan. sebelum pulang saya sempat mengoles ke tulang spinal dan perut sesuai anjuran di web bidan kita.


Cerita tentang kehamilan dan melahirkan adalah salah satu terita yang bersejarah dalam keh Berdayakan Dirimu (Birth Story)


perjalanan pulang dari rs,justru saya merasakan gelombang cinta yang makin kuat.

sampai rumah saya beberes rumah,bikin teh untuk mertua yang kebetulan hari itu sudah datang dari surabaya dan tetap pelvic rock di bola saat ngobrol2 dengan mertua. 

Gelombang cinta yang saya rasakan makin kuat,saya mulai menyalakan aplikasi kontraksi nyaman. kontraksi sudah berjalan rutin 5menit skali tapi saya masih kekeh minta suami untuk jalan ke mall dan membeli minuman coklat favorit saya. sepulang makan dan jalan dari mall saya langsung menuju ke rs,karena sudah ada 2kali peringatan untuk menuju ke rs dari aplikasi.


sesampainya di rs jam 10 malam,saya di ctg dan diperiksa dalam. hasilnya dokter tidak membolehkan saya pulang karena kontraksi sdh sanhat rutin dan walau pbukaan baru bertambah1 dipbukaan 3. pembukaan makin bertambah dan saya memilih berbaring karena kebetulan suami saya yg tadiny sudah bersiap mendampingi proses,harus mengurus si anak pertama yang gak mau ditinggal dirumah.

dengan sangat terpaksa saya mengoptimalkan yang ada. Sambil berbaring saya mendengarkan musik relaksasi dan mengatur nafas serta kembali mengoles eo lavender sambil memijat2 sendiri punggung utk merangsang endorfin. saat anak pertama sudah tidur,suami saya kembali mendampingi saya dan melakukan pijatan endorfin serta menyuapi kurma dan minum untuk sumber energi. Dan akhirnya tgl18 agustus 2016 jam 04.10 WIB lahirlah anak kedua saya dengan BB 4400grm dan PB 51cm.


Cerita tentang kehamilan dan melahirkan adalah salah satu terita yang bersejarah dalam keh Berdayakan Dirimu (Birth Story)


semoga menginspirasi Anda semua


salam hangat




Melahirkan itu = Bahagia, Melahirkan = Tugas Mulia

Well setelah lama sibuk dengan baby and toodler, akhirnya berkesampatan untuk menuliskan sepenggal cerita tentang kelahiran lelaki pejuang kedua kami.



Lets start the story.. Story about love, miracle, patience and blessing..



Saya selalu percaya bahwa setiap wanita tercipta dengan sempurna, karena merekalah yang akan mengemban tugas mulia sebagai seorang ibu.. Mengandung, melahirkan, menyusui, mendidik dengan cinta kasih adalah naluri yg paling alamiah yang dimiliki oleh setiap wanita.


Well setelah lama sibuk dengan baby and toodler Melahirkan itu = Bahagia, Melahirkan = Tugas MuliaYaahhh,, hal apalagi yang paling membahagiakan bagi wanita selain mengetahui dirinya tengah hamil buah cintanya? Begitupun dengan yang saya rasakan, sangat bersyukur Sang Pencipta mendengar doa kami. Kehamilan di waktu yang tepat, pas sekali bertepatan saat anak pertama kami berumur 3 tahun. Banyak orang bertanya apakah ini sengaja diprogram? Iyaa, Tuhanlah yang memprogramnya (saya tidak KB selama ini).


Kehamilan dinikmati dengan bersyukur dan bersuka cita tiap hari. Mulai belajar lagi, membaca lagi, browsing lagi dan lagi lagi rajin mengintip web Bidan Kita (www.bidankita.com) . Tapi kehamilan kedua bukanlah tanpa kendala karena sudah berpengalaman, ternyata setiap anak membawa karakter masing-masing bahkan saat masih berada dalam kandungan. Morning sickness, Ngidam makanan, kaki kram, bahkan sempat flek saya rasakan dikehamilan kedua ini, yang tidak saya rasakan dikehamilan pertama.


Well setelah lama sibuk dengan baby and toodler Melahirkan itu = Bahagia, Melahirkan = Tugas MuliaMasuk trimester ke dua saya bersyukur dipertemukan dengan bidan idola saya sejak hamil pertama, sayang saat itu kami belum berjodoh, Bu Yesie Aprillia empunya Bidan Kita. Wiihhh rasanya senang sekali bisa ikut kelas salsa untuk ibu hamil dan sejak saat itu saya mulai rajin mengikuti prenatal yoga (uk 25week), ilmu yang saya dapatkan sangat luar biasa bahkan bukan sekedar ilmu tapi banyak teman sesama ibu hamil bisa sharing bersama yang akhirnya sekarang tergabung dalam sebuah komunitas #laskargentlebirth.


Yoga, latihan nafas, relaksasi dan afirmasi ke bayi terus saya lakukan, salah satu yang selalu saya bisikkan ke bayi saya adalah “adek pinter, sehat, kuat.. lahirlah disaat yang tepat dan cara yang hebat”. Dan anak saya mendengarnya, dia memilih untuk lahir di usia kandungan tepat 37 minggu.


Diawali dengan gelombang cinta yang datang dini hari Selasa 19 April 2016, namun masih belum cukup intens jadi saya memutuskan untuk lanjut tidur (walaupun sesekali terbangun merasakan gelombang cintanya).


Pagi harinya bangun tidur duduk diatas gymball sambil bergoyang, lalu tetap beraktifitas mengantar si kakak sekolah dan lanjut ke studio balance meski harus absen mengikuti yoga (hanya mengambil kaos baru seragam Laskar Gentle Birth).


Siang hari gelombang cinta mulai intens dan mulai mengecek koper berisi keperluan persalinan sambil terus bergoyang diatas gymball (ini salah satu cara membantu janin turun dan release rasa tidaknyaman dipinggang).


Sore harinya gelombang cinta mulai merapat dan bersiap ke RS untuk cek bukaan..ternyata baru bukaan 2, dan kami putuskan mengantar si kakak ke rumah eyangnya dulu, makan malam, dan keliling jogja untuk mengulur waktu.


Pukul 23.00 wib kembali kerumah sakit masih bukaan 3 juga,, duduk di gymball sambil nonton film, jika gelombang cinta datang suami stand by memijat dan menelus daerah sekitar tulang ekor.


Di sela-sela gelombang cinta tetap saya usahakan tidur sambil membayangkan bunga mawar yang akan merekah walaupun serig terbangun dan banyak minum tentunya. Sekitar pukul 5 pagi gelombang cinta semakin terasa nikmat, cek bukaan ternyata bukaan 5 dan servik sudah lunak. Kami meng iyakan untuk pindah ke vk dengan harapan segera bertemu dengan si pejuang kecil kami.


Tahap demi tahap kami lewati dengan berpegangan tangan, berpelukan, suami terus mengingatkan untuk mengatur nafas dan senyum seperti kata bu Yesie (ternyata dia mengingat dan menyimak setiap kata dari bu Yesie sewaktu ikut kelas salsa). “ikuti iramanya, anak hebat lahir dari ibu yang hebat” hahaa kata-kata ini yang sampai sekarang masih terngiang ditelinga saya dan sukses membuat terharu.


Jam 8 pagi sayup-sayup dari ruang Bersalin saya mendengar suara Arsen (anak pertama sy) memanggil “bunda mana..bunda..” rasanya nyeessss dihati dan saat itu pula terasa mak pyoookkkk!!!! Ketubannya pecah, wuhh rasanya lega (mengingat persalinan pertama dulu sangat cepat setelah pecah ketuban).


Mungkin si adek menunggu kakaknya dulu..hehe, dan benar saja rasa ingin mengejan tak tertahankan namun masih harus dikontrol karena pembukaan serviks belum lengkap.


Well setelah lama sibuk dengan baby and toodler Melahirkan itu = Bahagia, Melahirkan = Tugas MuliaSambil atur nafas, fokus diperut akhirnya tanggal 20 April 2016 jam 09.00wib PRUCUUUTT!!! Si jagoan kecil meluncur dengan tenang, calm, tidak nangis heboh (hanya meringik saja) dan tanpa dipotong tali pusarnya (masih menyatu dengan plasenta didalam perut) kami bertemu untuk pertama kalinya. Beribu-ribu syukur kami panjatkan, memulai imd dan bisa dcc (delayed cord clamping) alhamdulillah semua berkat niat, usaha dan keyakinan serta doa dari semua. Dan diwaktu itu saya merasa naik kelas, menyandang status baru sebagai ibu dari 2 orang anak jagoan nan gentle Arsen dan Arrazqa.


Well setelah lama sibuk dengan baby and toodler Melahirkan itu = Bahagia, Melahirkan = Tugas MuliaTerimakasih Tuhan telah menciptakan saya sebagi seorang wanita, sebagai seorang ibu.. Semoga amanat mulia ini dapat saya emban denga baik selama saya hidup. Terimakasih anak-anakku yang pintar dan bisa diajak kerjasama.


Terimakasih suamiku atas cinta dan kesabaran mendampingi setiap proses persalinan,, you’re my best doula. Terimakasih Bu Yesie Aprillia atas inspirasi, semangat, ilmu dan suggest terhebat dan terkeren hingga proses melahirkan dapat saya lalui dengan gentle, minim trauma dan minim intervensi. Terimakasih ibu-ibu #LaskarGentleBirth yg selalu #empoweredtoempower semoga kita bisa menyebarkan virus cinta ini sehingga banyak bayi yang lahir dengan cinta..



So, singkirkan paradigma bahwa melahirkan=sakit, ganti dengan midset baru bahwa melahirkan itu = BAHAGIA, melahirkan = tugas MULIA



Well setelah lama sibuk dengan baby and toodler Melahirkan itu = Bahagia, Melahirkan = Tugas Mulia


Best regards


Wieka (Mrs. Chandra Yulist, bunda for Arsen n Arrazqa)


MENEMUKAN BAHAGIAKU

Akhirnya amanah itu datang pada kami disaat usia pernikahan baru menginjak usia  MENEMUKAN BAHAGIAKU


Positif hamil.. Ya, itulah salah satu kebahagiaan kami.. Yang di nanti dan ditunggu..

Akhirnya amanah itu datang pada kami disaat usia pernikahan baru menginjak usia 3 bulan.. Alhamdulillaah..


Dengan posisi domisili yg masih di Jakarta, jadilah segala pemeriksaan dilakukan disana.. Tapi malangnya, di pertemuan pertama saya bertemu nakes yg akhirnya membawa rekaman kurang baik tentang kehamilan dan membuat saya nyaris stres pada kehamilan yg ditunggu tunggu ini..


Keputusan besar pun dibuat.. Ya, saya memutuskan resign..

Demi menjalani masa kehamilan yg menyenangkan dan menenangkan, berbekal dari kisah kembar saya, dimana kehamilan dan persalinannya layak untuk dikenang.. Bukan menjalani kehamilan dibawah bayang-bayang diagnosis nakes yang serba negatif..


Bidan Yesie Aprilia..

Ya.. Satu nama yang sudah akrab di telinga saya.. Walaupun baru sekedar mendengar namanya.. Berkat beliau, kembar saya sukses menjalani kehamilan dan persalinan yang tenang dan nyaman.. Nama yang sudah terlintas di benak saya semenjak saya dinyatakan positif hamil.. Salah satu alasan kuat mengapa saya memutuskan resign dan kembali ke jogja..


Akhirnya amanah itu datang pada kami disaat usia pernikahan baru menginjak usia  MENEMUKAN BAHAGIAKUSaat usia kehamilan saya 24 minggu, disitulah pertama kalinya saya bertemu beliau.. Dan setelahnya saya merasa, yes she is.. 

Segala kegiatan yang berkaitan dengan melahirkan nyaman semua saya coba.. Mulai dari yoga, hypnobirth, workshop, dan disini pula lah dimana saya dipertemukan dengan ibu-ibu hebat yang tak henti-hentinya menularkan energi positif.. Entah yang begitu saja terlintas dan disebut #laskargentlebirth (LGB).. Ibu-ibu yang satu tujuan dengan saya.. Ingin mengalami kehamilan dan persalinan yang tak perlu mengkhawatirkan rasa sakit.. Sakit yang menjadi ketakutan para ibu untuk melahirkan dan menyusui..

Yang menjadi keluarga baru untuk saya, tempat berbagi dan menyebarkan virus cinta, padahal sebelumnya kami sama sekali tidak saling mengenal..


Akhirnya amanah itu datang pada kami disaat usia pernikahan baru menginjak usia  MENEMUKAN BAHAGIAKU


Dengan bekal ilmu yg sudah dipersiapkan, saya makin siap dengan kehamilan ini.. Saya pun merasakan bonding yang makin kuat dengan bayi di dalam perut..


Sampai pada suatu waktu di tengah malam 28 April 2016.. Saat itu pukul 02.40..  Saya yang biasanya tidur lagi setelah terbangun pipis, entah kenapa saat itu tidak langsung tidur.. Langsung membuka grup #laskargentlebirth yang selalu on setiap saat dan tidak ingin ketinggalan di setiap obrolannya.. Sedang asik “nyekrol” menyimak obrolan tiba-tiba sepintas terdengar suara “makpyok”.. Di keheningan pagi buta suara itu terdengar sangat jelas dan membuat saya menduga, seperti inikah ketuban pecah dini.. Terasa mengalir seperti pipis.. Beruntung saya selalu sedia kertas lakmus dan saat dicek kertas berubah menjadi warna biru, dan meyakinkan saya kali ini benar-benar KPD.. Berbekal pengalaman teman-teman LGB yang proses persalinannya diawali dengan KPD, saya berusaha untuk tetap tenang.. Inhale exhale..


5 menit kemudian, saya “ngompol” lagi. Dan keluar lendir dan flek. Meskipun saat itu belum ada kontraksi sama sekali, terlintas lah pikiran untuk segera ke JIH. Padahal sempat terpikir untuk menunda sampai bukaan tinggi baru berangkat ke rumah sakit. Well, tapi saya ga mau ambil resiko. Jadilah jam 3 pagi saya diantar bapak ibu ke UGD. Dengan kondisi hospital bag yang belum siap semua. Karena usia kehamilan saya 37w5d. Dan HPL masih tanggal 14 Mei 2016. Meskipun terlalu santai. It’s ok. Keep relax.


Saya ke rumah sakit dengan kondisi belum pernah induksi alami sama sekali. Dan hanya pijat perineum satu kali. Dua hari sebelumnya hanya dipijat oleh mbak Lina yang fenomenal di grup LGB berkat rekomendasi mbak Aya. Tapi semua itu tidak masalah. Saya mencoba tetap tenang. Pikiran saya saat itu adalah, bayiku akan keluar sesuai keinginannya. Ibunya bekerja sama membantunya. Dan inilah tanda yang diberikan oleh bayiku. HPL bukan hari pasti lahir kan?


Di jalan menuju rumah sakit mulai ada sedikit kontraksi, tetapi belum teratur. Beruntung saat itu meskipun pagi buta sempat menghubungi kak Yesie dan dibalas oleh beliau. At least saya merasa lebih tenang.  Bahkan beliau adalah orang yang saya hubungi pertama kali. Bukan mas fajar yang posisinya masih ada di Jakarta.


Tiba di JIH setelah dari UGD saya dibawa ke ruang observasi lantai tiga.. Alhamdulillaah kondisi ketuban ok dan detak jantung bayi juga ok.. Namun bukaan satu dan belum longgar, serta ketuban juga mengalir terus. Setelah pindah ke ruang perawatan, satu jam kemudian dicek lagi, dan belum ada penambahan bukaan. Saya juga sudah tidak boleh turun dari kasur karena ketuban yang terus mengalir. Hanya berbaring dengan kondisi kaki diangkat lebih tinggi.

Jadilah saya dikasih penipis rahim, atas saran dokter adi yang terus berkoordinasi dengan perawat. Berbekal kepercayaan dengan nakes pilihan setelah sebelumnya sempat safari nakes. I trust him.


Selanjutnya kontraksi mulai teratur. Disela-sela menunggu bukaan semakin tinggi, saya mendapat kunjungan dari mbak Lisa (yang lahiran sehari sebelumnya), dekmuy, dan mbak Diena. Sungguh support yang luar biasa, disamping support yang juga datang dari grup LGB. Sharing mbak Lisa tentang KPD juga makin menambah semangat saya. Tetap santai. Tetap tenang. Sebentar lagi saya akan bertemu dengan bayi saya.


Jam 14.00 dicek kembali dan bukaan menuju dua, disaat kontraksi mulai teratur, headphone tidak pernah lepas dari suara merdu ibu peri. Apalagi kalau bukan kak Yesie dengan kontraksi nyamannya. Benar-benar nyaman dan menenangkan sekaliiiiiiiiiii. Apalagi untuk saya yang sama sekali belum pernah tau seperti apa rasanya melahirkan.


Ketika magrib dicek kembali, sudah bukaan 4. Dan sangat lunak. Jadilah saya dibawa ke ruang bersalin. Agak sedikit kaget karena masih bukaan 4. Tetapi ini untuk mengantisipasi loncatan bukaan, kata bidan saat itu. Benar saja, setengah jam kemudian saya pembukaan 8.


Dan, bukaan lengkap.

Bersyukur sekali mas fajar terus menjalankan perannya sejak saya pembukaan satu. Begitu juga ketika kami berada di ruang bersalin. Yes, he is my private doula. Sentuhannya yang sudah terekam ke alam bawah sadar saya akan selalu menenangkan saya, benar-benar selalu membuat saya tenang. Ditambah keberadaan dokter adi, dengan kesantaiannya membuat saya tetap tenang dan bisa mengontrol segala rasa yang muncul. Saat di ruang bersalin sangat terasa bahwa memilih provider yang tepat untuk membantu proses persalinan merupakan kunci. Dimana segala persiapan yang sudah dijalani akan sia-sia jika persalinan ini penuh trauma. Mas fajar sampai salut dengan kesabaran beliau. Termasuk saat kepala bayi belum crowning meskipun bukaan sudah lengkap. Kata mas fajar, mungkin jika ditangani oleh provider yang lain bisa saja saya sudah di episiotomi atau bahkan SC.


28 April 2016 jam 21.00 alhamdulillaah jagoan kami lahir. Ahmad Fatih Alfarizi. Yang kami panggil fariz, singkatan nama kami berdua, fajar dan rizka. Sesuai namanya semoga kelak menjadi pemimpin terpuji yang selalu bersemangat. Bidan di ruang bersalin sampai heran bagaimana bisa saya menahan rasa nyeri sejak diberikan penipis rahim. Di situlah baru terasa peran latian nafas dan segala bekal ilmu yang saya peroleh sebelumnya.


Alhamdulillaah semua berhasil dilewati dengan mulus meskipun persalinan ini diawali KPD dan jauh dari HPL. Hampir semua afirmasi yang saya repeat dari awal terwujud.. Mungkin kecuali perineum yang utuh, tapi itu bukan masalah untuk kami. Menjalani persalinan yang memorable ini jauh lebih bermakna. Rasanya seakan percaya tidak percaya. Mulai dari ruangan bersalin yang hanya sendiri sehingga saya tetap bisa fokus, para nakes yang positif, lingkungan yang kondusif, begitu juga dengan berat bayi yang sesuai keinginan ibunya.. Ya, fariz yang saya minta untuk memberikan kode ketika dia siap untuk keluar, ketika beratnya 3kg, jauh dari HPL, dan ini waktu yang dia pilih, lahir dengan berat 3.01 kg.


Pemberdayaan diri itu penting. Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Apa yang kamu tanam, itu yang kamu petik. Dan kisah persalinan ini mengajarkan saya banyak hal. Ternyata saya mampu, jika saya berusaha. Dan harapan saya melahirkan nyaman sejak pertama kali dinyatakan positif hamil, dapat dijalani dengan sangat mulus. How blessing I am. Betapa bersyukurnya kami diberikan kesempatan untuk berkenalan dengan yang namanya Gentle Birth. Kakak pembina alias kak yesie, #laskargentlebirth, dan dokter adi.. Salam hangat untuk kalian semua.. Terima kasih banyak..





Tulisan ini untukmu anakku. Semoga kelak tulisan ini bermanfaat untukmu. Dan untuk siapa pun yang telah membaca kisah ini.




Ini kisah ku menemukan bahagia ku. Bagaimana dengan kalian?


Ketuban, kenali lebih dekat

Beberapa bulan terakhir ini, yang saya amati adalah: banyak sekali kasus intervensi dalam proses persalinan yang disebabkan karena adanya issue atau masalah yang berkaitan dengan air ketuban. Ada yang “di bilangin” ketuban kurang, ketuban kering, ketuban keruh, ketuban rembes, ketuban bocor. ada juga yang ketuban pecah.


nah apa sebenarnya ketuban dan apa pentingnya ketuban sehingga sebegitu paniknya Anda ketika Anda mengalami issue issue di atas.


Cairan Ketuban / Amniotic Fluid


Janin di dalam kandungan hidup di dalam air (jadi selama 40 minggu atau lebih, kita adalah makhluk air). 


Selama kehamilan, bayi ini dikelilingi oleh cairan yang disebut cairan ketuban. cairan ketuban membantu melindungi bayi dari trauma perut ibu. Ketuban bantal cairan tali pusar, melindungi bayi dari infeksi, dan menyediakan cairan, ruang, nutrisi, dan hormon untuk membantu bayi tumbuh (Brace 1997).


Selama paruh kedua kehamilan, cairan ketuban terdiri dari urin dan paru-paru sekresi bayi. Cairan ini awalnya berasal dari ibu, dan kemudian mengalir melalui plasenta, untuk bayi, dan keluar melalui kandung kemih dan paru-paru (Brace 1997) bayi.


cairan ketuban yang sama ini kemudian ditelan oleh bayi dan kembali diserap oleh lapisan plasenta. Karena tingkat cairan ibu adalah sumber asli dari cairan ketuban, perubahan status cairan ibu dapat mengakibatkan perubahan jumlah cairan ketuban. tingkat cairan ketuban meningkat hingga ibu mencapai sekitar 34-36 minggu, dan kemudian tingkat secara bertahap menurun sampai kelahiran (Brace 1997).


 







Nah apa tujuan dari adanya cairan ketuban itu sebenarnya?



  1. Manfaat air ketuban adalah sebagai cairan yang memberi perlindungan bagi janin yang masih berada dalam proses tumbuh dan berkembang. Sehingga, janin di dalam rahim tidak terlalu mendapatkan gangguan dari luar yang berupa benturan yang mungkin tidak sengaja terjadi. Sehingga dia berperan sebagai pelindung yang akan menahan janin dari trauma akibat benturan

  2. Air ketuban juga dapat menjadi sebuah bantalan bagi janin di dalam rahim dari berbagai bahaya infeksi yang dapat menyebabkan terganggunya tumbuh kembang janin juga menyebabkan adanya trauma dari luar.

  3. Fungsi air ketuban bagi janin adalah air ketuban dapat menstabilkan suhu di dalam rahim. Suhu yang stabil membuat janin akan merasa aman dan nyaman. Hal ini disebabkan karena air di dalam ketuban di daur ulang secara sistematis sehingga tetap menjaga kestabilan suhu di dalam rahim.

  4. Air ketuban juga berfungsi sebagai cairan yang dapat membuat janin di dalam rahim lebih leluasa dalam bergerak. Pada usia kehamilan 18 minggu janin sudah dapat melakukan gerakan-gerakan kecil. Untuk mempermudah janin melakukan gerakan diperlukan cairan ketuban.

  5. Fungsi air ketuban bagi janin adalah dalam proses pembentukan paru-paru. Air ketuban memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pembentukan tubuh janin terutama paru-paru yang memiliki fungsi sebagai alat pernafasan kelak.

  6. Janin yang aktif bergerak akan sangat bermanfaat bagi proses pembentukan tulang. Air ketuban ini adalah sebagai media bagi janin agar lebih mudah bergerak di dalam rahim ibunya. Semakin aktif janin bergerak maka janin tersebut menunjukkan kesehatan yang baik.

  7. Fungsi air ketuban bagi janin adalah sebagai media pelapis dari sisi membran timpanik, hal ini berdampak bagi pendengaran janin. Dengan adanya air ketuban maka janin akan dapat mendengarkan bunyi-bunyian dari luar tubuh ibunya. Air ketuban sebagai media perantara bunyi yang berasal dari luar sehingga bisa masuk ke bagian telinga dalam janin.

  8. Melindungi dan mencegah tali pusat dari kekeringan, yang dapat menyebabkannya mengerut sehingga menghambat penyaluran oksigen melalui darah ibu ke janin.

  9. Berperan sebagai cadangan cairan dan sumber nutrien bagi janin untuk sementara.

  10. Memungkinkan janin bergerak lebih bebas, membantu sistem pencernaan janin, sistem otot dan tulang rangka, serta sistem pernapasan janin agar berkembang dengan baik.

  11. Menjadi inkubator yang sangat istimewa dalam menjaga suhu dan lingkungan Rahim agar tetap ideal bagi janin

  12. Selaput ketuban dengan cairan ketuban di dalamnya merupakan penahan janin dan rahim terhadap kemungkinan infeksi.

  13. Pada waktu persalinan, air ketuban dapat meratakan tekanan atau kontraksi di dalam rahim, sehingga leher rahim membuka dengan mudah.

  14. Dan saat kantung ketuban pecah, air ketuban yang keluar sekaligus akan membersihkan jalan lahir.

  15. Pada saat kehamilan, air ketuban juga bisa digunakan untuk mendeteksi kelainan yang dialami janin, khususnya yang berhubungan dengan kelainan kromosom.

  16. Kandungan lemak dalam air ketuban dapat menjadi penanda janin sudah matang atau lewat waktu.


selain air ketuban, yang terpenting adalah selaput ketuban. atau disebut membran amnion. membran amnion membentuk lapisan lingkungan janin selama masa kehamilan. membaran ini yang mengisolasi janin sehingga dia hidup dalam  kantung membran yang mengelilingi bayi dari titik di mana itu berdekatan dengan plasenta pada lempeng korionik. membran amnion terdiri dari sejumlah lapisan yang dapat dilihat dengan mata telanjang. jadi, selaput atau membran amniotic tidak hanya satulapis saja. bahkan berlapis lapis. yang paling jelas adalah bahkan selaput itupun bisa kita pisahkan dengan mudah karena di antara lapisan itu ada semacam lapisan jelly yang sangat jelas sebagai pemisah antar lapisan. Nah..berapa lapis sebenarnya? silahkan lihat di gambar berikut:


 banyak sekali kasus intervensi dalam proses persalinan yang disebabkan karena adanya issu Ketuban, kenali lebih dekat


jika Anda mengamati dan melihat gambarannya seperti ini:


 


 banyak sekali kasus intervensi dalam proses persalinan yang disebabkan karena adanya issu Ketuban, kenali lebih dekat
photo credit : @bidankita

tipis…tapi berlapis lapis. dan tidak sedikit ibu yang mempunyai selaput ketuban yang unik, dimana antar lapisan sangat terpisah dengan jelas. sehingga saat persalinan dia bisa mengalami pecah ketuban beberapa kali. artinya ketuban pecah lalu saat persalinan ternyata selaputnya masih utuh.


Kasus yang sering terjadi yang seringkali membuat para ibu galau adalah, ketuban kurang dan ketuban pecah dini. nah bagaimana solusinya agar anda tidak terlalu galau? bisa Anda baca disini ya.


dan, pagi ini ada kisah persalinan yang sangat menarik dan sayapun sudah mendengar kisah ini beberapa kali dan sebenarnya cukup membuat saya geli. berikut ini kisahnya:


 banyak sekali kasus intervensi dalam proses persalinan yang disebabkan karena adanya issu Ketuban, kenali lebih dekat


 



“Bu Yessie….terimaksih yaa ilmu yoga balance dan gentle birth nya. Mau dicurhatin juga sebelum sy persalinan.. Ibu baik sekaliii, smg Tuhan selalu melindungi dan membalas kebaikan Ibu  banyak sekali kasus intervensi dalam proses persalinan yang disebabkan karena adanya issu Ketuban, kenali lebih dekat banyak sekali kasus intervensi dalam proses persalinan yang disebabkan karena adanya issu Ketuban, kenali lebih dekat


Jadi, sya sempat panik krna sdh mendkati HPL Jumat, 17.06.2016 blm ada tnda2 gelombang cinta, sesekali udah ada sejak 38-39w tp cm lemah. Akhirnya kamis tgl 16, dibuat havefun unt jln2 ke bidankita di Klaten ikut akupuntur dan moxa, sma terapis yg super baik2. Bikin lbih rilex..

Sabtu, 18.06.2016 jadwal kontrol di J**. Langsg shock dibilang ketuban tgl sedikit dan harus CS bsk pagi unt keselamatan baby, sempat curhat sma Bu Yessie disarnkan cri 2nd opinion dan minum kangen water. Langsg cri dokter yg prktek saat itu jg, dpt di RS** SI. Hasil periksa bkin lbh shock, ketuban kering! Hrus CS sore itu jg. Sambil trus coba tenang dan banyak minum, ttp afirmasi positif yakin tbuh dan debay baik2 aja. Krn 2 dr nyaanin CS akhirnya putusin unt balik J**. Masuk ruang periksa, di usg lagi. Langsung takjub, yg tdi pgi dan siang hasilnya bkin shock. Dokter bilang ketuban masih banyak dan lahir normal aja, tp disaranin dr langsg ambil kamar dn akan dibntu induksi dg dosis rendah 1/8. Tiba2 langsg sumringah!! Persiapan rwt inap minggu siang pembukaan 2, malam 4, masuk ruang bersalin..

Di ruang bersalin ttp bisa santai smbil terapin nafas yoganya Bu Yess, smbil lemesin ajaa saat kontraksi. Sempat keganggu, sebelah triak2 kesakitan. Sampe bidan heran say bisa ttp santai atur nafas dan gak bikin “berisik”. Alhamdulillah Senin pagi 20.06.2016 09.40 WIB si baby boy lahir normal dgn BB 3.09 kg , TB 50 cm. Masih gak percaya afirmasi dan saran Bu Yessie manjur semuaa. Afirmasi lahir normal dan BB 3kg. Dan saran unt minum bntu air ketuban dan tetep “lemesinnn tsaaayyyy” berhasil… 

Melhirkan itu menyenangkan, terimakasih Bu Yessie, Umi dan Aldric bisa kerjsama dan lahir gentle banyak sekali kasus intervensi dalam proses persalinan yang disebabkan karena adanya issu Ketuban, kenali lebih dekat banyak sekali kasus intervensi dalam proses persalinan yang disebabkan karena adanya issu Ketuban, kenali lebih dekat banyak sekali kasus intervensi dalam proses persalinan yang disebabkan karena adanya issu Ketuban, kenali lebih dekat“



apa kasus menarik dan pelajaran yang di dapat dari kisah persalinan ibu X di atas?




  1. pagi dan siang hari 2 dokter menyatakan ketuban kurang dan ketuban kering

  2. Sore harinya ternyata ketuban normal dan cenderung banyak


Mungkinkah ketuban menghilang begitu saja?kemudian muncul lagi? (seperti sulapan yach?!)


atau mungkinkah sang dokter salah diagnosa? lalu apa jadinya jika salah diagnosa, dan sang ibu percaya, lalu langsung setuju untuk melakukan intervensi?


Okay, kita abaikan dulu kemungkinan tentang salah diagnosa, tapi saya akan mencoba untuk membahas tentang issue ketuban yang kurang.


selama ini, yang terjadi di lapangan adalah standart praktek kebidanan di Indonesia sangat berkiblat dengan standart praktek di AS. buktinya, Standar praktek di AS adalah untuk menginduksi persalinan aterm jika seorang ibu memiliki cairan ketuban yang rendah atau kurang dalam kehamilan yang sehat. Bahkan, 95% dari dokter menyatakan bahwa ini-merupakan indikasi untuk induksi persalinan pada 40 minggu (Schwartz, Sweeting et al. 2009).



Tapi apakah ada Evidance Based yang mendasari standart praktek kelahiran  ini? Mari kita lihat bukti bersama-sama.



Pertama-tama, apa yang di maksud ketuban kurang? oligohidramnion?


Oligohidramnion berarti jumlah cairan yang rendah dalam kantung ketuban.


(Oligo = sedikit, hydr = air, amnios = membran di sekitar janin, atau kantung ketuban).


Tidak yakin bagaimana cara mengucapkan oligohidramnion? Klik disini.

Apa yang bisa menyebabkan cairan ketuban rendah /berkurang?


ada banyak faktor yang bisa berkontribusi mengakibatkan jumlah air ketuban menjadi kurang, dan faktor tersebut bisa dari Ibu maupun bayi


Faktor ibu:



  1. ibu yang mengalami dehidrasi, ini dapat menurunkan kadar cairan ketuban. (Patrelli, Gizzo et al. 2012) itulah kenapa ibu hamil harus minum banyak air putih, bahkan saat proses persalinan.

  2. Jika seorang ibu hamil dengan kadar cairan ketuban rendah mau minum  minimal 2,5 Liter cairan per hari, kemungkinan iadapat meningkatkan volume cairan ketuban dan akan kembali normal pada saatpersalinan. (Patrelli, Gizzo et al. 2012)

  3. Jika selaput ketuban pecah, ini akan menyebabkan penurunan cairan ketuban. (Brace 1997)

  4. Jika plasenta ibu tidak berfungsi dengan baik, ini dapat menyebabkan penurunan cairan ketuban. Ketika ini terjadi, mungkin karena ibu memiliki kondisi serius seperti pre-eklampsia atau pembatasan pertumbuhan intrauterin. (Beloosesky dan Ross 2012)


Faktor Bayi



  1. Jika bayi memiliki masalah dengan saluran kemih atau ginjal, ini dapat menurunkan aliran urin. (Brace 1997). Dalam 14 hari sebelum dimulainya persalinan spontan, urin bayi mulai menurun. (Stigter, Mulder et al. 2011)

    bayi juga menelan cairan  ketuban lebih banyak, sehingga mengarah ke penurunan kadar cairan. (Brace 1997)

  2. Jika bayi post mature (setelah 42 minggu), dia mulai menelan secara signifikan lebih banyak cairan, memberikan kontribusi untuk penurunan cairan ketuban. (Brace 1997)

  3. Jika bayi memiliki cacat lahir, ia mungkin menelan air ketuban secara signifikan lebih banyak lagi, yang bisa memngarahkan ke diagnosa ketuban kurang. (Beloosesky dan Ross 2012)


Apa cara terbaik untuk mengukur tingkat cairan ketuban?


Metode standar emas adalah dengan menyuntikkan kantung ketuban dengan pewarna dan kemudian mengambil sampel cairan ketuban untuk memeriksa pengenceran. Namun, metode ini sangat invasif. Jadi metode yang paling umum digunakan sebagai pengganti adalah dengan dua teknik ultrasound:  amniotic fluid index (AFI) dan thesingle deepest pocket  (Gilbert 2012).


Untuk menghitung AFI, dokter akan membagi uterus/rahim menjadi 4 daerah/bagian. kandungan cairan di masing-masing daerah/bagian diukur, kemudian 4 angka-angka ini ditambahkan membentuk AFI. Nilai AFI 5 cm atau kurang dianggap oligohidramnion. Dengan metode ini, dokter mencari daerah atau bagian yang cairan ketubannya di dalam rahim. Jika bagian terbesar kurang dari 2 cm dengan 1 cm, maka yang dianggap diagnosis oligohidramnion (Nabhan dan Abdelmoula 2009).


yang penting untuk dipahami bahwa tingkat cairan ketuban ada pada kontinum dan bahwa tidak ada kesepakatan di antara para peneliti tentang cut-off value yang memprediksi hasil-tingkat AFI yang rendah sehingga angka 5  dipilih untuk menentukan oligohidramnion (Nabhan dan Abdelmoula 2009). Selain itu, beberapa penelitian terbaru menyatakan bahwa pemeriksaan AFI dengan metode thesingle deepest pocket  adalah prediktor yang buruk dari volume cairan ketuban yang benar. Sebagai contoh, AFI menangkap hanya 10% dari semua kasus oligohidramnion benar (10% sensitivitas) (Gilbert 2012).


Ada beberapa faktor yang membuat sulit untuk mendapatkan pengukuran ultrasound akurat. karena ketika cairan ketuban jumlahnya menurun, maka hasil USG menjadi kurang akurat. Pengalaman pemeriksa juga dapat mengurangi keakuratan hasil tes, serta jumlah tekanan pemeriksa saat menempatkan  probe ultrasound. Posisi bayi juga dapat mempengaruhi keakuratan hasil. (Nabhan dan Abdelmoula 2009; Gilbert 2012). artinya hampir sama seperti tehnik dalam fotografi, ketika sang photografer memotret dengan “angle” yang berbeda, tentu hasil foto juga akan berbeda.


Jadi apa cara terbaik untuk mengukur cairan ketuban?


Dalam review Cochrane, peneliti menggabungkan hasil dari 5 percobaan terkontrol acak dengan lebih dari 3.200 wanita. Dalam studi ini, ibu hamil secara acak baik dengan metode AFI atau metode thesingle deepest pocket. Para peneliti menemukan bahwa ketika AFI digunakan untuk mengukur cairan ketuban, perempuan 2,4 kali lebih mungkin didiagnosis dengan oligohidramnion, 1,9 kali lebih mungkin untuk diinduksi, dan 1,5 kali lebih mungkin untuk dilakukan caesar untuk diagnosa gawat janin tanpa perbaikan yang sesuai pada hasil bayi. Para peneliti menyimpulkan bahwa pengukuran thesingle deepest pocket, memiliki risiko yang lebih sedikit dan harus menjadi cara yang lebih disukai untuk mengukur cairan ketuban (Nabhan dan Abdelmoula 2009).


Apa arti klinis nya apabila seorang ibu mengalami atau terdiagnosa ketuban kurang atau ketubannya sedikit di usia  37 minggu atau lebih?


Pada tahun 2009, 91% dari dokter percaya bahwa oligohidramnion , atau cairan ketuban rendah di kehamilan sehat, merupakan faktor risiko untuk hasil yang buruk dan 95% akan merekomendasikan induksi persalinan.(Schwartz, Sweeting et al. 2009).



  1. Locatelli et al. (2003) mempelajari 3.049 wanita hamil sehat yang antara 40 dan 41,6 minggu . Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah rendah cairan ketuban (didefinisikan sebagai AFI ≤ 5) menyebabkan hasil yang buruk. Sebelas persen wanita memiliki cairan ketuban rendah, dan wanita memiliki tingkat induksi yang lebih tinggi  (83% vs 25%), caesar lebih tinggi (15% vs 11%). Bayi yang lahir dari ibu dengan cairan amnion rendah lebih mungkin untuk memiliki bayi dengan berat lahir di bawah rata rata (13% vs 6%). Tidak ada perbedaan antara kelompok dengan pewarnaan mekonium, aspirasi mekonium, pH arteri umbilikalis <7, atau skor Apgar. Hanya ada satu yang lahir mati (dalam kelompok cairan normal) karena terdapat simpul dalam tali pusat.

    Setelah melakukan kontrol,  fakta yang terjadi bahwa beberapa ibu yang diinduksi dan beberapa ibu yang melahirkan pertama kali, para peneliti tidak menemukan hubungan antara sesar  dan cairan ketuban. Ini berarti bahwa induksi mungkin bertanggung jawab untuk tingkat caesar lebih tinggi pada kelompok cairan ketuban rendah. Namun, ketika para peneliti melakukan kontrol pada usia kehamilan, mereka menemukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara berat badan lahir rendah dan cairan ketuban yang rendah. Ini berarti bahwa ibu hamil dengan cairan amnion rendah adalah 2 kali lebih mungkin untuk memiliki bayi dengan berat badan lahir rendah.

  2. Manzaneres et al. (2006) membandingkan hasil dari 206 wanita hamil yang sehat yang diinduksi karena didiagnosa ketuban kurang dan 206 wanita hamil yang sehat dengan tingkat cairan ketuban yang normal yang melahirkan spontan. Para wanita di kedua kelompok melahirkan antara 37 dan 42 minggu. Para peneliti menemukan bahwa kelompok dengan cairan ketuban rendah lebih mungkin untuk memerlukan forceps atau  vakum saat melahirkan (26% vs 17%), bedah caesar (16% vs 6%), dan status janin tidak baik selama persalinan (8% vs 2%). status janin tidak baik (DJJ meningkat/ mengarah ke fetal destres) mungkin telah disebabkan oleh obat induksi, tapi penjelasan ini tidak diusulkan oleh penulis. Tidak ada perbedaan antara kelompok dengan berat lahir, skor Apgar, pewarnaan mekonium, atau pH tali pusat. Singkatnya, penulis menemukan ibu yang ketubannya kurang dan dilakukan induksi cenderung memiliki resiko yang lebih tinggi untuk operasi Sesar.

  3. Ada satu studi percontohan kecil dilakukan di mana peneliti secara acak meneliti ibu dengan ketuban kurang namun tidak dilakukan induksi. ternyata Tidak ada perbedaan antara kelompok dalam hasil apapun, termasuk berat lahir, persalinan caesar, maupun skor Apgar.(Ek, Andersson et al. 2005).


Jadi apa bukti untuk melakukan  induksi dengan alasan cairan ketuban rendah (tanpa komplikasi lain)?


Tidak ada bukti bahwa menginduksi persalinan pada ibu dengan ketuban yang kurang dapat memiliki dampak menguntungkan pada hasil ibu atau bayi. Berdasarkan kurangnya bukti, maka setiap rekomendasi untuk dilakukan induksi untuk kasus ketuban yang kurang sebenarnya akan menjadi rekomendasi yang lemah berdasarkan pendapat klinis saja.


semoga bisa menjadi bahan perenungan


salam hangat


 


 


referensi:



  1. http://www.medscape.com/viewarticle/773578_8

  2. https://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/002220.htm

  3. http://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/pregnancy-week-by-week/expert-answers/low-amniotic-fluid/faq-20057964

  4. Ross MG, Ervin MG, Novak D. Placental and fetal physiology. In: Gabbe SG, Niebyl JR, Simpson JL, at al, eds. Obstetrics: Normal and Problem Pregnancies. 6th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2012:chap 2.

  5. Schwartz, N., R. Sweeting, et al. (2009). “Practice patterns in the management of isolated oligohydramnios: a survey of perinatologists.” J Matern Fetal Neonatal Med 22(4): 357-361.

  6. Beloosesky, R. and M. G. Ross. (2012). “Oligohydramnios.”   Retrieved 8/20/12, 2012, from www.UpToDate.com

  7. Brace, R. A. (1997). “Physiology of amniotic fluid volume regulation.” Clin Obstet Gynecol40(2): 280-289

  8. Chamberlain, P. F., F. A. Manning, et al. (1984). “Ultrasound evaluation of amniotic fluid volume. I. The relationship of marginal and decreased amniotic fluid volumes to perinatal outcome.” Am J Obstet Gynecol 150(3): 245-249.

  9. Chauhan, S. P., M. Sanderson, et al. (1999). “Perinatal outcome and amniotic fluid index in the antepartum and intrapartum periods: A meta-analysis.” Am J Obstet Gynecol 181(6): 1473-1478.

  10. Ek, S., A. Andersson, et al. (2005). “Oligohydramnios in uncomplicated pregnancies beyond 40 completed weeks. A prospective, randomised, pilot study on maternal and neonatal outcomes.” Fetal Diagn Ther 20(3): 182-185.

  11. Feldman, I., M. Friger, et al. (2009). “Is oligohydramnios more common during the summer season?” Arch Gynecol Obstet 280(1): 3-6

  12. Gilbert, W. M. (2012). Amniotic Fluid Disorders. Obstetrics: Normal and Problem Pregnancies. S. G. Gabbe. Philadelphia, PA, Elsevier. 6.

  13. Locatelli, A., P. Vergani, et al. (2004). “Perinatal outcome associated with oligohydramnios in uncomplicated term pregnancies.” Arch Gynecol Obstet 269(2): 130-133.

  14. Nabhan, A. F. and Y. A. Abdelmoula (2009). “Amniotic fluid index versus single deepest vertical pocket: a meta-analysis of randomized controlled trials.” International journal of gynaecology and obstetrics: the official organ of the International Federation of Gynaecology and Obstetrics 104(3): 184-188.

  15. Patrelli, T. S., S. Gizzo, et al. (2012). “Maternal hydration therapy improves the quantity of amniotic fluid and the pregnancy outcome in third-trimester isolated oligohydramnios: a controlled randomized institutional trial.” J Ultrasound Med 31(2): 239-244.

  16. Schwartz, N., R. Sweeting, et al. (2009). “Practice patterns in the management of isolated oligohydramnios: a survey of perinatologists.” J Matern Fetal Neonatal Med 22(4): 357-361.

  17. Stigter, R. H., E. J. Mulder, et al. (2011). “Fetal urine production in late pregnancy.” ISRN Obstet Gynecol 2011: 345431.

  18. Ulker, K., I. Temur, et al. (2012). “Effects of maternal left lateral position and rest on amniotic fluid index: a prospective clinical study.” J Reprod Med 57(5-6): 270-276.